MEDAN-Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keuangan terus meningkat.
Salah satu cara cerdas yang kini banyak dilirik adalah investasi, khususnya di pasar modal.
“Meski dulu dianggap rumit dan penuh risiko, kini pasar modal telah menjadi pilihan investasi yang inklusif, mudah diakses, dan menjanjikan untuk jangka panjang,” kata Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara, Muhammad Pintor Nasution, Sabtu (19/7/2025).
Disebutkan Pintor, pasar modal merupakan sarana bertemunya investor dan perusahaan yang membutuhkan dana.
Di sinilah saham dan obligasi diperdagangkan, memungkinkan masyarakat untuk ikut memiliki sebagian dari perusahaan dan meraih keuntungan dari pertumbuhan bisnis tersebut.
Menurutnya pasar modal kini bukan lagi wilayah eksklusif. Siapa pun bisa menjadi investor, bahkan hanya bermodalkan ponsel dan koneksi internet.
Diantara berbagai pilihan investasi yang tersedia, pasar modal hadir sebagai salah satu kendaraan paling dinamis dan potensial untuk mengembangkan kekayaan dalam jangka panjang.
Salah satu alasan orang mulai melirik pasar modal adalah karena potensi imbal hasil yang lebih tinggi.
Disamping itu, pasar modal memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk ikut serta, tanpa memandang latar belakang pendidikan atau profesi.
Tetapi, pasar modal bukan tempat untuk cepat kaya. Jika tujuan untuk membangun dana pensiun, menyiapkan biaya pendidikan anak atau membeli rumah dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, maka pasar modal adalah kendaraan yang cocok jika digunakan dengan disiplin.
Generasi muda saat ini memiliki keuntungan besar dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di era digital, memiliki akses terhadap informasi, dan bisa mulai berinvestasi sejak dini.
Semakin cepat seseorang memulai investasi, semakin besar pula efek compounding yang bisa dirasakan.
Beberapa tahun lalu, dunia pasar modal terasa seperti ruang tertutup. Penuh angka, jargon keuangan, grafik yang menjulang tajam lalu anjlok curam, dan dipenuhi oleh orang-orang berdasi di gedung-gedung pencakar langit.
Namun sekarang ini, semua itu berubah. Pasar modal telah bertransformasi menjadi arena inklusif, terbuka untuk siapa saja, bahkan bagi seorang mahasiswa di kamar kosnya, atau seorang pekerja freelance yang sedang duduk di kafe sambil menyeruput kopi.
Digitalisasi, katanya telah membuka pintu lebar bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan ikut ambil bagian dalam dunia investasi.
Pasar modal tidak lagi menjadi wilayah eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang berkantong tebal atau berlatar belakang finansial. Kini, dengan bermodalkan ponsel pintar dan koneksi internet, siapapun bisa menjadi investor.
Dulu, untuk membeli saham, seseorang harus datang langsung keperusahaan sekuritas, membuka rekening efek secara manual dan menyetorkan dana melalui prosedur yang tidak sederhana. Transaksi dilakukan melalui telepon atau secara fisik.
Kini, semuanya bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Registrasi pembukaan rekening efek cukup dilakukan secara daring melalui aplikasi investasi yang tersedia di App Store atau Play Store.
“Verifikasi identitas dilakukan via video call atau unggahan KTP dan NPWP, dan dana bisa ditransfer langsung dari m-banking,” sebutnya.
Bukan hanya transaksi pembelian saham yang menjadi digital. Seluruh ekosistem pasar modal, dari pemantauan pergerakan harga saham secara real-time, penilaian kinerja perusahaan, hingga analisis tren industri, telah tersedia dalam satu genggaman.
Aplikasi investasi generasi terbaru bahkan sudah dilengkapi dengan notifikasi berita terkini, edukasi harian, rekomendasi saham, hingga fitur belajar sambil bermain untuk membangun kebiasaan investasi.
Generasi muda adalah generasi yang cepat beradaptasi. Mereka terbiasa mencari informasi melalui YouTube, mendengar podcast tentang saham saat berolahraga, mengikuti akun edukasi finansial di TikTok atau Instagram dan membaca utas panjang soal tips investasi di X.
Proses belajar yang dulu membutuhkan kursus formal atau buku tebal kini telah dipadatkan dalam format visual, interaktif, dan mudah dicerna.
Inilah generasi yang tahu bahwa peluang tidak harus menunggu lulus kuliah atau memiliki pekerjaan tetap.
Mereka paham bahwa dengan menyisihkan sebagian uang jajan atau penghasilan freelance, mereka bisa membeli saham saham unggulan atau reksa danayang menjanjikan pertumbuhan dalam jangka panjang.
“Mereka tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi pelaku dalam ekosistem keuangan digital,” tukasnya.
Kebebasan mendapatkan akses ini memberi kekuatan besar, namun juga menuntut kedewasaan. Generasi muda perlu menyadari bahwa berinvestasi bukan sekadar ikut-ikutan tren, tapi keputusan yang memengaruhi masa depan.
Untung dan rugi bukan sekadar angka di layar, tapi bagian dari proses belajar menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial.
Dijelaskannya, jika dulu edukasi soal pasar modal terbatas pada seminar formal atau buku ekonomi berat, kini konten-konten edukasi hadir dalam format ringan dan menyenangkan. Banyak komunitas saham dan reksa dana kini bermunculan di media sosial.
Mereka berbagi pengalaman, strategi, hingga cerita kegagalan dan keberhasilan. Ada ruang untuk bertanya tanpa takut dianggap bodoh. Ada forum diskusi yang terbuka dan membangun, sehingga belajar soal pasar modal menjadi proses sosial yang menyenangkan.
Selain itu, banyak platform memberikan simulasi bertransaksi saham tanpa menggunakan uang sungguhan.
Dikatakannya, digitalisasi pasar modal telah menciptakan ekosistem baru yakni inklusif, terjangkau, transparan, dan cepat.
Tidak ada lagi alasan untuk menunda investasi. Generasi muda yang melek teknologi dan haus akan kemajuan harus memanfaatkan momentum ini untuk menciptakan masa depan finansial yang lebih mandiri.
“Investasi itu bukan cuma soal cari untung. Tapi bentuk perhatian kita buat masa depan. Setiap lembar saham yang kita beli, setiap reksadana yang kita simpan, itu langkah kecil menuju impian besar, punya rumah sendiri, pensiun muda, atau hidup lebih tenang di masa depan,” pungkasnya.( swisma)






