Kenali Strategi Berinvestasi untuk Pendidikan Anak

Bisnis130 Dilihat

MEDAN– Setiap orang tua tentu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Bukan hanya demi gelar, tetapi sebagai pintu masa depan yang lebih cerah. Sayangnya, biaya pendidikan terus melonjak dari tahun ke tahun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan biaya pendidikan di Indonesia berkisar 10% hingga 15% per tahun. Artinya, jika saat ini biaya masuk universitas ternama mencapai Rp100 juta, maka 10 tahun lagi bisa tembus dua kali lipat.

“Dengan kondisi ini, menabung saja tidak cukup. Perlu strategi cerdas, yaitu investasi,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumut, Muhammad Pintor Nasution, Jumat (23/5/2025).

Menurutnya investasi untuk dana pendidikan itu suatu keharusan. Sebab, menyiapkan dana pendidikan bukan hanya soal menyisihkan uang, tapi soal mengelola dan mengembangkan dana agar mampu mengejar inflasi biaya pendidikan.

“Jika hanya mengandalkan tabungan konvensional, nilai uang bisa tergerus inflasi,” ujarnya.

Dia meyakini, semakin banyak orang tua mulai melek investasi sebagai bagian dari perencanaan pendidikan anak.

Menurutnya investasi sejak dini memberi ketenangan dan menghindarkan dari risiko utang besar ketika anak memasuki jenjang pendidikan tinggi.

Bahkan, keputusan finansial yang tepat bisa membuka lebih banyak peluang pendidikan terbaik bagi sang anak.

Pintor pun menjabarkan tiga instrumen populer, yakni saham, obligasi, dan reksa dana.

Dijelaskannya, saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Potensinya besar, tapi risikonya juga tinggi.

Kelebihannya ada potensi imbal hasil (return) tinggi, dan cocok untuk investasi jangka panjang (> 5 tahun). Kekurangannya volatilitas tinggi, serta butuh pemahaman dan waktu untuk analisa.

Sedangkan obligasi adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan. Memberikan kupon secara berkala dan pengembalian pokok di akhir periode.

Kelebihannya, sebut Pintor, lebih aman (terutama obligasi pemerintah). Kemudian, penghasilan tetap dari kupon.

Kekurangan karena potensi imbal hasil lebih rendah dibanding saham, dan nilai pasar bisa turun saat suku bunga naik.

Sementara itu, reksa dana adalah wadah investasi yang dikelola profesional, terdiri dari berbagai instrumen seperti saham, obligasi, atau pasar uang.

Kelebihannya, dikelola oleh manajer investasi. Bisa dimulai dengan dana kecil

“Banyak pilihan jenis sesuai profil risiko,” ucap Pintor.

Kekurangan reksa dana adalah ada biaya pengelolaan (management fee), dan nilai bisa fluktuatif tergantung jenis.

Pintor mengingatkan, untuk memilih instrumen investasi tidak bisa asal-asalan. Perlu mempertimbangkan tujuan dan jangka waktunya.

Pertama, usia anak dan jangka waktu investasi. Misal, anak baru 1 tahun dan dana dibutuhkan saat usia 18 tahun. Ini jangka panjanh, dan bisa dominan di saham.

Kedua, profil risiko orang tua, apakah konservatif, moderat, atau agresif.

Ketiga, target dana yang ingin dicapai. Hitung kebutuhan riil dan buat strategi.

Pintor memaparkan contoh strategi. Untuk jangka panjang (10–18 tahun): kombinasi saham + reksa dana saham.

Jangka menengah (5–10 tahun): kombinasi reksa dana campuran + obligasi.

Pendek (<5 tahun): reksa dana pasar uang + deposito.

“Menggabungkan beberapa instrumen adalah strategi bijak untu menyeimbangkan antara risiko dan potensi imbal hasil,” ujarnya.

Pintor mengingatkan calon investor untuk menghindari beberapa kesalahan dalam perencanaan dana pendidikan.

Pertama, menunda investasi hingga anak masuk sekolah. Kedua, hanya menabung di rekening bank. Ketiga, tidak mengevaluasi portofolio secara berkala. Keempat, menganggap asuransi pendidikan sama dengan investasi.

“Padahal asuransi fokus pada proteksi, bukan pengembangan dana,” tukasnya.

Menurut Pintor, melek finansial dimulai dari rumah. Orang tua perlu terus meningkatkan literasi keuangan, termasuk belajar soal investasi dan manajemen risiko.

Manfaatkan buku, seminar, kelas daring, atau platform digital. Bahkan, melibatkan anak dalam diskusi keuangan juga penting.

“Anak-anak perlu belajar tentang nilai uang, menabung, dan berinvestasi sejak dini,” katanya.

Dia menyebut masa depan anak dimulai dari keputusan finansial saat ini.

Ditegaskannya, dana pendidikan bukan hanya angka, tapi investasi masa depan.

Saham, obligasi, dan reksa dana bukan sekadar istilah rumit, tapi alat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak. Tentukan target dana, pilih strategi investasi sesuai kebutuhan, dan lakukan evaluasi berkala.

“Karena masa depan gemilang anak kita dimulai dari keputusan bijak yang kita ambil hari ini,” pungkasnya. (swisma)