Peduli Penanganan Bahaya Kanker, Columbia Asia Hospital Ajak Masyarakat Deteksi Dini Kanker Ovarium

News460 Dilihat

MEDAN —Kanker ovarium masih menjadi ancaman serius bagi perempuan karena kerap tidak menunjukkan gejala yang khas pada awal kemunculannya.

“Banyak pasien baru datang berobat saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut,” kata spesialis kandungan dan subspesialis kankerl kandungan di Columbia Asia Hospital Medan, dr. Dwi Faradina, M.Ked(OG), Sp.OG Subsp. Onk, Selasa (26/5/2026)

Disebutkannya,  gejala awal kanker ovarium sering kali disalahartikan sebagai keluhan biasa seperti maag atau masuk angin.

“Kadang orang menduga itu sebagai sakit maag, merasa kembung atau kenyang dan nyeri sedikit di perut yang hilang timbul,” katanya.

Saat menjadi narasumber pada media gathering bertajuk “Kanker Ovarium”,di Columbia Asia Hospital Jalan Listrik Medan, Dwi memberikan edukasi tentang kanker ovarium, gejala dini, faktor risiko, terapi, dan pentingnya deteksi dini.

Menurutnya kegiatan ini digelar sebagai bentuk keseriusan dan kepedulian Columbia Asia Hospital Medan terhadap penyakit tersebut.

Untuk itu dia mengajak masyarakat khususnya perempuan dapat mendeteksi dan mengenali faktor risikonya sejak dini serta penanganan medis yang terintegrasi.

Edukasi ini menjadi krusial mengingat gejala awal kanker ovarium sering kali dianggap sebagai keluhan pencernaan biasa atau gangguan menstruasi ringan.

Dwi menjelaskan kanker ovarium merupakan tumor ganas yang menyerang indung telur atau ovarium, salah satu organ reproduksi bagian dalam pada wanita.

 

Ia menuturkan, secara global maupun di Indonesia, kanker ovarium menempati urutan ketiga kanker terbanyak pada perempuan setelah kanker payudara dan kanker serviks.

Dia menyebut, kadang pasien datang dulu ke dokter umum karena menduga sakit maag atau kembung biasa.

“Namun  saat perut sudah membesar dan ada benjolan teraba, biasanya sudah stadium lanjut. Kondisi itulah yang bisa membahayakan dirinya,” ungkap Dwi.

Untuk meningkatkan kewaspadaan, pemerintah sebelumnya mencanangkan kampanye “10 Jari” yang berisi empat gejala utama dan enam faktor risiko kanker ovarium.

Empat gejala yang perlu diwaspadai yakni perut kembung, cepat kenyang atau penurunan nafsu makan, nyeri perut atau panggul, serta sering buang air kecil.

Jika gejala ini dialami terus-menerus, dia menyarankan  harus periksakan diri ke dokter kandungan dulu untuk memastikan ada atau tidak kelainan pada organ reproduksi.

Sementara enam faktor risiko yang perlu diperhatikan meliputi riwayat kista ovarium, riwayat keluarga dengan kanker ovarium atau kanker payudara, gaya hidup tidak sehat dan obesitas, pertambahan usia, belum memiliki anak atau jumlah anak sedikit, serta faktor mutasi genetik.

Dwi mengatakan mayoritas pasien kanker ovarium datang pada usia di atas 40 tahun.

Meski demikian, perempuan usia muda bahkan anak-anak tetap memiliki kemungkinan terkena kanker ovarium, meski dengan tipe yang lebih jarang.

Ia mengatakan perbedaan mendasar antara tumor jinak dan tumor ganas terletak pada kemampuan penyebarannya.

Pada kanker ovarium, sel ganas dapat menyebar ke organ lain melalui pembuluh darah, kelenjar getah bening, maupun jaringan sekitar.

Bahkan penderita  sering datang sudah stadium lanjut, sehingga penyebaran bisa sampai ke rongga perut dan paru-paru. Kalau kondisi  seperti ini  pasien bisa sesak napas dan batuk-batuk.

Dalam penanganannya, katanya operasi tetap menjadi terapi utama jika kondisi pasien memungkinkan.
Namun bila tumor sudah melekat ke organ sekitar atau berisiko menimbulkan perdarahan berat, dokter biasanya mengambil sampel jaringan terlebih dahulu sebelum kemoterapi dilakukan.

Menurutnya sampel itu diperlukan untuk memastikan jenis kankernya sehingga bisa mengetahui obat kemoterapi yang cocok.

” Kemoterapi bertujuan mengecilkan massa tumor supaya nantinya bisa dioperasi,” ungkapnya.

Meski pengobatan kanker terus berkembang, dr. Dwi  menegaskan istilah “sembuh total” jarang digunakan dalam dunia kanker kandungan, melainkan survival rate atau angka ketahanan hidup pasien.

“Kita biasanya menyebut aman kalau sudah lewat lima tahun tanpa kekambuhan. Tapi kalau baru beberapa bulan selesai terapi lalu kambuh lagi, prognosanya biasanya kurang baik,” ujarnya.

Dikatakannya, hingga kini kanker ovarium belum memiliki metode skrining khusus seperti pap smear atau tes IVA pada kanker serviks. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah paling penting.

“Hal utama yang  perlu disadari adalah awareness. Kalau ada faktor risiko dan gejala-gejala tadi, segera periksa. Jangan tunggu sampai stadium lanjut,” imbaunya.

Selain deteksi dini, dr. Dwi  juga mengingatkan pentingnya menjalani pola hidup sehat untuk menurunkan risiko kanker ovarium, seperti menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat.

Dwi juga menyebutkan menyusui dan penggunaan pil KB kombinasi dalam jangka panjang  dapat memberi perlindungan terhadap kanker ovarium.

Dia mengungkapkan, diperkirakan lebih dari 15.000 kasus kanker ovarium terjadi di Indonesia. Bahkan menempati peringkat ke-10 kasus kanker terbanyak di dunia, termasuk di Indonesia

Kanker sering kali tidak menunjukkan gejala spesifik pada stadium awal, sehingga mayoritas penderita terlambat mendiagnosa kondisi fisik mereka.

Bagi pasien yang sudah memasuki stadium lanjut, penanganan tidak lagi sederhana. Diperlukan pendekatan multimodalitas yang mencakup operasi pembersihan massa kanker, kemoterapi untuk membasmi sel kanker yang tersisa, hingga radioterapi jika diperlukan.

BACA JUGA :  MEDAN- Ketua DPRD Kota Medan, Hasyim SE mengharapkan Kota Medan benar- benar menjadi kota yang berkah yang bisa dirasakan oleh seluruh warga Kota Medan. Hal itu diungkapkan Hasyim SE usai mengikuti upacara HUT Kota Medan ke- 432 di Stadion Mini Universitas Sumatera Utara (USU), Jumat (1/7/2022). "Kita apresiasi beberapa aspirasi warga sudah ditindaklanjuti oleh Pemko Medan. Ini berkaitan dengan 5 program prioritas yang merupakan harapan bagi warga Kota Medan," ungkap Hasyim SE. Seperti di bidang kesehatan. Hasyim SE menilai, pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas sudah semakin bagus. Selain itu, ada penambahan kuota yang cukup besar untuk program BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) di 2022. Sedangkan di 2023, Pemko Medan memiliki program Universal Health Coverage (UHC). "Dengan Program UHC itu, warga Kota Medan sudah bisa berobat di seluruh rumah sakit di Kota Medan yang bekerjasama dengan provider BPJS Kesehatan secara gratis, dengan membawa KTP. Ini berlaku untuk semua warga Kota Medan tanpa terkecuali. Selama ini kan, berobat gratisnya di Puskesmas," papar Hasyim SE. Selain itu, Hasyim SE menambahkan pemberdayaan UMKM di Kota Medan juga sudah semakin baik yang dibuktikan dengan dimasukkannya produk UMKM ke dalam e-katalog. Menurut Hasyim SE, tentunya ini merupakan wujud komitmen Pemko Medan dalam pemberdayaan UMKM di Kota Medan. "Artinya, seluruh OPD sudah bisa berbelanja produk UMKM Kota Medan melalui e-katalog," paparnya. Disinggung tentang penanganan banjir, Hasyim SE mmengharapkan Pemko Medan bisa menuntaskan masalah itu. Walau pun selama ini, penanganan genangan air di Kota Medan dinilai sudah lebih baik dari sebelumnya. "Begitu juga dengan penanganan banjir rob yang sudah dianggarkan dan di tahun 2022 ini sudah bisa digunakan anggarannya. Saya harap ini bisa didukung oleh seluruh stakeholders di Kota Medan, karena ini menjadi aspirasi warga Medan Utara" ujarnya. Terkait dengan infrastruktur jalan yang terlihat semakin banyak perbaikan, Hasyim SE mengharapkan agar kwalitas infrastruktur jalannya juga baik. Jangan, ketika baru diaspal saja yang terlihat mulus, namun tidak diikuti dengan kwalitas yang baik. Begitu juga dengan revitalisasi cagar budaya, seperti Lapangan Merdeka, Medan. Hasyim SE menilai hal itu sebagai langkah yang baik untuk menambah ruang terbuka hijau di Kota Medan. "Saya berharap, di usia Kota Medan yang cukup matang ini, ke- 432, Kota Medan benar- benar bisa menjadi kota yang nyaman, tentram, kondusif, angka kemiskinan bisa diturunkan dan tentunya menjadi kota yang berkah," pungkas Hasyim SE.

Sementara itu, Dr. dr. Beni Satria, M.Kes, S.H, M.H, FISQua, Direktur Columbia Asia Hospital Medan, menyatakan bahwa aspek kemanusiaan menjadi prioritas utama dalam layanan kanker mereka.

“Kami memahami  perjalanan melawan kanker bukan hal yang mudah. Karena itu, kami berkomitmen menghadirkan layanan yang humanis,” ujar dr Beni.

Selain itu, katanya  juga memastikan untuk mendapatkan perawatan medis terbaik dengan teknologi terkini, tetapi juga dukungan moral dan emosional selama proses penyembuhan.

Mencoba ikut melangkah bersama dalam perjuangan pasien melawan kanker, sebutnya Columbia Asia Hospital Medan telah menghadirkan Layanan Chemotheraphy.

Layanan ini dihadirkan untuk memberikan pengobatan yang lebih komprehensif dan terpantau secara berkelanjutan oleh tim ahli onkologi yang berpengalaman.

Selain itu sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap pencegahan dini kanker ovarium, rumah sakit ini juga menyediakan Skrining Kanker Ovarium. Itu karena menjaga kesehatan bukan hanya tentang mengobati, melainkan tentang keberanian untuk mengenali diri lebih awal.

Sedangkan melakukan skrining rutin adalah bentuk cinta terbaik bagi diri sendiri dan keluarga, memastikan setiap momen berharga tetap terjaga tanpa bayang-bayang kekhawatiran.

“Kami mengajak seluruh wanita untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak ragu melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Kami juga akan menjangkau seluruh lapisan masyarakat untuk bisa menikmati fasilitas unggulan ini dan mendapatkan kemudahan akses untuk kesehatan diri masing-masing,” pungkas dr Beni. ( tanai)