MEDAN-Universitas Negeri Medan (Unimed) mewisuda 1.046 lulusan dari berbagai program studi di Auditorium Unimed, Jalan Willem Iskandar, Medan.
Prosesi wisuda tersebut berlangsung selama dua hari, Rabu dsn Kamis (11–12/2/2026)
Rektor Unimed, Prof. Dr. Baharuddin STM.Pd pada sambutannya mengatakan, para
lulusan harus mampu menjadikan tantangan sebagai peluang, terutama dalam mempersiapkan diri menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut dia, bangsa Indonesia saat ini tengah berada pada fase penting dalam menyongsong satu abad kemerdekaan.
Berbagai perubahan global, disrupsi teknologi, hingga tantangan sosial menuntut hadirnya sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan berkarakter.
“Saat ini kita menghadapi berbagai tantangan yang kadang tidak terduga. Hanya orang-orang yang kreatif, adaptif, dan berkarakter yang akan menjadi pemenang,” ungkapnya.
Di hadapan para lulusan, rektor menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati atas capaian akademik yang telah diraih.
Ia menegaskan kelulusan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar di tengah dinamika kehidupan yang terus berubah.
Karena itu rektor juga mengingatkan bahwa masyarakat menaruh harapan besar kepada lulusan perguruan tinggi. Keunggulan akademik saja tidak cukup tanpa dibarengi sikap dan jiwa kebangsaan yang kuat.
“Sikap dan jiwa kebangsaan tak kalah penting dari pencapaian akademis. Untuk menjadi pemenang, kita harus menjadi pembelajar sepanjang hayat,” ujarnya
Ketua Senat Unimed, Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd pada wisdua itu menyampaikan orasi ilmiahnya.
Dia menekan pentingnya daya juang dalam menghadapi perubahan dan tekanan hidup.
Menurut dia, kemampuan mengonsolidasikan tantangan menjadi peluang adalah kunci bertahan dan berkembang.
“Itu memang tidak mudah, tetapi itulah kenyataannya. Seseorang harus mampu mengubah tekanan menjadi peluang,” ujar Prof. Syawal.
Ia mengingatkan para lulusan bahwa proses panjang selama kuliah, mulai dari revisi skripsi hingga bolak-balik bertemu dosen pembimbing merupakan bagian dari pembentukan karakter.
“Saya tahu bagaimana Anda menghadapi berbagai tekanan. Tidak mudah untuk sampai di fase wisuda. Bolak-balik ke dosen pembimbing, bolak-balik direvisi. Tapi mungkin tanpa kita sadari, itulah cara paling nyata menempa Anda menjadi pribadi yang tangguh,” sebutnya.
Prof. Syawal juga mencontohkan fenomena di Amerika Serikat pada awal 2000-an, ketika banyak anak muda memilih keluar dari pekerjaan untuk membangun usaha sendiri. Namun, dari ratusan yang memulai, hanya segelintir yang mampu bertahan.
Dikatakannya, dari 100 orang, mungkin hanya 10 yang bertahan di tahun pertama. Tahun berikutnya tinggal beberapa lagi.
“Akhirnya tersisa adalah mereka yang mampu mengonsolidasikan tantangan dan tekanan menjadi peluang. Memang tidak mudah, tetapi itulah yang harus dihadapi,” kata Syawal.
Melalui wisuda ini, Unimed berharap para lulusan tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga membawa semangat pantang menyerah, karakter kuat, serta kesiapan untuk berkontribusi nyata bagi bangsa menuju Indonesia Emas 2045. (swisma)






