MEDAN – Sektor perbankan di Provinsi Sumatera Utara hingga Maret 2025, terus menunjukkan tingkat ketahanan yang tinggi. Kondisi ini ditopang stabilitas likuiditas dan penguatan permodalan.
Hal tersebut terlihat dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Non-Core Deposit (AL/NCD) sebesar 94,58 persen dan Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 20,69 persen.
“Kedua indikator tersebut jauh di atas ambang batas minimal masing-masing 50 persen dan 10 persen,” kata Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, dalam siaran persnya dilansir Selasa (22/4/2025).
Dijelaskan Khoirul, kedua indikator ini berada jauh di atas ambang batas minimal yang ditetapkan untuk menjaga kesehatan bank, yakni sebesar 50 persen dan 10 persen, yang mencerminkan kesiapan tinggi sektor perbankan dalam memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat di daerah.
Ia juga merinci, dari sisi permodalan, ketahanan juga tetap terjaga dengan baik. Rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) pada Februari 2025 mengalami penguatan menjadi 31,61 persen untuk bank umum, meningkat dari posisi Desember 2024 yang sebesar 29,03 persen.
Sementara itu, CAR untuk Bank Perekonomian Rakyat (BPR) juga mengalami peningkatan menjadi 27,56 persen dari sebelumnya 26,70 persen.
Kondisi ini mencerminkan kapasitas permodalan yang cukup kuat dalam mengantisipasi berbagai potensi risiko, sekaligus menjadi bantalan yang kokoh bagi sistem perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pertumbuhan kredit bank umum di Sumatera Utara pada Februari 2025 melanjutkan tren akseleratif yang berlangsung sejak September 2024, hingga mencapai tingkat pertumbuhan tahunan (yoy) tertinggi dalam lima tahun terakhir, yaitu sebesar 17,93 persen.
Capaian ini jauh melampaui pertumbuhan kredit secara nasional yang tercatat sebesar 10,30 persen yoy, dan mencerminkan dinamika ekonomi regional yang terus menunjukkan penguatan serta stabilitas.
Kinerja pertumbuhan kredit tersebut semakin kuat dengan meningkatnya kontribusi dari sektor produktif, menggantikan dominasi kredit konsumtif pada periode sebelumnya.
Total penyaluran kredit produktif tercatat sebesar Rp213,51 triliun atau setara dengan 70,65 persen dari total portofolio kredit, dengan laju pertumbuhan signifikan sebesar 19,89 persen yoy.
Pergeseran ini mencerminkan struktur kredit yang lebih sehat dan mendukung pembangunan ekonomi jangka panjang, sekaligus mengindikasikan meningkatnya optimisme dunia usaha terhadap prospek ekonomi ke depan.
Pertumbuhan kredit produktif tersebut terutama didorong peningkatan kredit Modal Kerja, yang menyumbang 47,16 persen dari total kredit dan tumbuh sebesar 24,90 persen yoy.
Sementara itu, kredit Investasi yang memiliki porsi 23,49 persen mencatat pertumbuhan sebesar 10,94 persen yoy.
Struktur ini, katanya menunjukkan ekspansi kredit di Sumatera Utara semakin diarahkan pada aktivitas yang bersifat produktif dan berkontribusi terhadap penguatan kapasitas usaha dan penciptaan nilai tambah di sektor riil,” ujarnya.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan kredit produktif terutama didorong oleh sektor Industri Pengolahan, yang mencatatkan jumlah pangsa (25,23 persen) dan pertumbuhan yang impresif (34,50 persen yoy), menjadikannya kontributor terbesar dalam pertumbuhan total kredit periode ini. ( swisma)








