MEDAN-Pengumpulan dana melalui emisi di Pasar Modal dari perusahaan-perusahaan di Sumatera Utara mencapai Rp2,28 triliun.
Penghimpunan ini melibatkan 11 perusahaan yang melaksanakan IPO, 1 perusahaan yang menerbitkan obligasi, serta 5 entitas usaha yang memanfaatkan skema pendanaan kolektif (securities crowdfunding/SCF).
Hal ini disampaikan Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, dalam siaran persnya dilansir Selasa (22/4/2025).
Disebutkannya, pada 2025, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengidentifikasi dua perusahaan dari sektor pendidikan dan sektor perkebunan kelapa sawit yang berpotensi melaksanakan IPO di Sumatera Utara pada 2026/2027.
Bertambahnya jumlah emiten saham di wilayah ini diharapkan dapat mendorong dinamika investasi lokal serta memperkuat ekosistem pasar modal di tingkat daerah.
OJK terus mendorong perusahaan-perusahaan sawit di Sumatera Utara untuk melakukan IPO sebagai langkah strategis dalam pengembangan komoditas sawit.
Dengan melantai di bursa, perusahaan dapat meningkatkan akses pendanaan yang lebih luas dan transparan, sehingga dapat mendukung ekspansi bisnis serta meningkatkan daya saing industri sawit di pasar global.
Perkembangan investor di Pasar Modal telah menunjukkan pergerakan yang signifikan dari segi akses keuangan, sejalan dengan kemajuan teknologi dan penyediaan informasi keuangan.
Hingga Februari 2025, terdapat total 631.064 single investor identification (SID) atau akun investor tercatat di Sumatera Utara, mencerminkan pertumbuhan sebesar 10,40 persen yoy.
Dalam konteks instrumen investasi, reksadana menjadi pilihan yang dominan dengan jumlah investor terbanyak, mencapai 583.058.
Sementara instrument dengan pertumbuhan rekening tertinggi adalah Saham sebesar 21,57 persen yoy.
Berdasarkan golongan umur, distribusi rekening SID terbesar di Sumatera Utara terdapat pada golongan umur 18 -25 tahun atau lebih dikenal dengan demografi generasi Z, yaitu sebesar 33,92 persen dari total SID.
Kemudian diikuti dengan golongan umur 26 – 30 tahun yang merupakan irisan antara generasi Z dan generasi Y (milenial), yaitu sebesar 23,52 persen.
Selanjutnya, untuk golongan umur 31 -40 atau generasi Y memiliki porsi sebesar 24,19 persen dan untuk golongan umur 41 s.d. 100 atau campuran antara generasi X dan generasi baby boomer memiliki porsi paling kecil yaitu sebesar 18,37 persen.
Distribusi ini mencerminkan peran dominan generasi muda, terutama generasi Z yang tumbuh di era digital, dalam ekosistem pasar modal di Sumatera Utara.
Hal ini menunjukkan bahwa demografi muda menjadi kunci penggerak utama pertumbuhan pasar modal di Sumatera Utara.
Jumlah saham yang dimiliki investor (kepemilikan saham) di Sumatera Utara bertumbuh 2,03 persen secara yoy.
Dilihat berdasarkan jenisnya, pangsa kepemilikan saham oleh investor perorangan mencapai 78,90 persen, sementara untuk institusi mencapai 21,10 persen dengan pertumbuhan sebesar 31,34 persen yoy.
Aktivitas perdagangan saham di Sumatera Utara di awal 2025 menunjukkan sedikit perlambatan dibanding akhir 2024.
Mengikuti tren siklikal setiap awal tahun, dimana investor cenderung bersikap hati-hati dan menunggu kepastian arah pasar serta rilis laporan keuangan tahunan emiten, namun jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pada Februari 2025, total nilai transaksi jual dan beli saham mencapai Rp11,05 triliun.
Sementara secara kumulatif sepanjang Januari – Februari 2025 tercatat sebesar Rp27,97 triliun, tumbuh 106,21 persen dibandingkan periode Januari -Februari 2024 (Rp94,34 triliun).
Peningkatan ini mencerminkan optimisme investor yang semakin kuat terhadap prospek pasar modal di tengah stabilitas makroekonomi dan tren suku bunga yang lebih akomodatif.
Akselerasi digitalisasi layanan investasi dan kinerja positif beberapa sektor unggulan seperti energi, perbankan, serta konsumer turut mendukung peningkatan aktivitas perdagangan saham.
Penjualan reksadana oleh bank sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) di Sumatera Utara hingga Februari 2025 tercatat sebear Rp1,35 triliun dengan pertumbuhan 102,83 persen yoy.
Total nasabah reksadana tercatat sebanyak 39.285 yang terdiri dari 39.134 investor perorangan dan 151 investor institusi. ( swisma)






