Inflasi di Sumut Tertinggi Gunungsitoli Terdampak Bencana Akhir 2025

Bisnis173 Dilihat

MEDAN -Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat
pada Desember 2025, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di  Gunungsitoli mencapai 10,84 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 119,24.

“Sedangkan inflasi terendah tercatat di Kabupaten Karo sebesar 3,15 persen dengan IHK 111,20,” ungkap Kepala BPS Sumut Asim Saputra, Senin (5/1/2026).

Dia mengatakan bencana yang menimpa sejumlah daerah ternyata memberikan dampak tingginya inflasi di beberapa daerah, termasuk yang tidak terkena bencana langsung seperti di Gunungsitoli.

“Dampak bencana memang mengalami hambatan distribusi terutama, seperti di daerah bencana Sibolga, Tapanuli Tengah dan Tapsel,”  katanya.

Disebutkannya, bencana ini ternyata juga berdampak cukup besar pada kabupaten-kota di Kepulauan Nias. Sehingga Gunungsitoli mencatat inflasi sebesar di atas 10 persen.

Saat ini inflasi di Sumatera Utara secara mtm 1,66 persen, dan secara year-on-year 4,66 persen.

Di tengah situasi dampak bencana, katanya inflasi ini relatif cukup terkendali terutama pada kota-kota kita seperti Medan sekitarnya.

Dia menyebut di Sumut hanya terganggu karena sulitnya pasokan di kota Sibolga saat itu sehingga terimbas besar ke kota Gunungsitoli.

“Berkat kesigapan pemerintah, baik pusat, daerah, provinsi, kabupaten-kota, dalam penanganan bencana di Sumatera Utara terutama pada masa tanggap, kondisi relatif sangat baik,” ujarnya.

Saat ini akses sudah bisa dibuka terutama beberapa daerah-daerah yang selama ini terisolir

BPS Sumut mencatat Provinsi Sumatera Utara mengalami inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 4,66 persen pada Desember 2025.

Angka ini dibarengi dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di level 112,25.

Kondisi inflasi di wilayah Sumatera Utara menunjukkan variasi yang cukup signifikan antar wilayah pantauan.

Kenaikan inflasi tahunan ini dipicu, sebutnya oleh naiknya indeks harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang kenaikan tertinggi, disusul oleh sektor pangan.

Inflasi y-on-y ini didorong oleh kenaikan harga di berbagai sektor. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak hingga 14,83 persen, sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik sebesar 8,44 persen.

​Selain itu, beberapa kelompok lain juga memberikan kontribusi terhadap inflasi, di antaranya: Kesehatan: naik 3,15 persen, Pendidikan: naik 2,82 persen,

Demimian juga ​penyediaan makanan dan minuman/restoran: naik 2,43 persen. Pakaian dan alas kaki: naik 1,57 persen.​Transportasi: naik 1,37 persen.

​Meskipun mayoritas mengalami kenaikan, katanya ada dua kelompok yang mengalami deflasi atau penurunan indeks.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun sebesar 0,28 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun tipis 0,02 persen.

BPS Sumut juga melaporkan tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada Desember 2025 berada di angka 1,66 persen.

Sementara itu, tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) tercatat sama dengan angka tahunan yakni sebesar 4,66 persen.

​”Secara keseluruhan, pergerakan harga di akhir tahun ini dipengaruhi oleh pola konsumsi masyarakat dan fluktuasi harga di pasar yang tercermin dalam kenaikan IHK,” pungkasbya. ( swisma)