MEDAN – Minat masyarakat Sumatera Utara terhadap investasi pasar modal terus menunjukkan tren peningkatan.
Hingga Januari 2026, jumlah investor yang tercatat melalui Single Investor Identification (SID) mencapai 1,4 juta investor, dengan 401.723 di antaranya merupakan investor saham.
Capaian tersebut menempatkan Sumatera Utara sebagai salah satu daerah dengan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan investor pasar modal nasional.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara, Pintor Nasution, mengungkapkan bahwa kontribusi investor dari Sumut terhadap total investor pasar modal nasional berada di kisaran 4,3 persen.
Hal itu disampaikan Pintor saat memaparkan Capital Market Update 2026 yang dirangkaikan dengan kegiatan buka puasa bersama di Medan, Rabu (4/3/2026).
Secara nasional, jumlah investor pasar modal saat ini telah mencapai sekitar 21 juta SID.
Dengan porsi tersebut, Sumatera Utara menjadi salah satu penyumbang terbesar investor dari wilayah luar Pulau Jawa.
Tak hanya dari sisi jumlah investor, kontribusi Sumut juga terlihat dari aktivitas perdagangan.
Nilai transaksi pasar modal di provinsi ini hingga Januari 2026 tercatat mencapai Rp25,98 triliun.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp10 triliun.
Secara tahunan, nilai transaksi tersebut melonjak sekitar 159,6 persen.
Menurut Pintor, lonjakan ini menunjukkan bahwa investor di daerah semakin aktif bertransaksi dan mulai memanfaatkan pasar modal sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan.
Di tingkat wilayah, konsentrasi investor masih didominasi oleh Medan dengan porsi sekitar 41 persen. Setelah itu diikuti oleh wilayah Deli serdang, Simalungun, Pematang Siantar, serta Langkat.
Ke depan, BEI Sumut menilai perluasan literasi dan inklusi pasar modal menjadi pekerjaan penting agar pertumbuhan investor tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi juga menjangkau seluruh daerah di provinsi ini.
“Kami ingin pasar modal tidak hanya dipandang sebagai instrumen investasi, tetapi menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga masyarakat Sumatera Utara,” ujar Pintor. (swisma)






