Relokasi Chapel USU untuk Renovasi, Fasilitas Ibadah Tetap Disediakan 

News66 Dilihat

MEDAN — Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan relokasi sementara Chapel USU sebagai bagian dari penataan dan renovasi fasilitas rumah ibadah di lingkungan kampus.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas sarana pembinaan kerohanian bagi sivitas akademika dan warga Kristen di lingkungan USU.

Ketua Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) USU, Prof. Dr. Robert Sibarani MS mengatakan Chapel selama ini memiliki fungsi penting sebagai sarana pembinaan kerohanian mahasiswa, dosen, pegawai, serta warga Kristen di lingkungan USU.

Menurutnya, renovasi diperlukan seiring dengan meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen di USU.

Saat ini, jumlah mahasiswa Kristen diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 orang yang tersebar di 16 fakultas.

“ Seiring meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen, kebutuhan terhadap fasilitas pembinaan kerohanian yang lebih memadai juga semakin besar,” ujar Robert; Selasa (11/8/2026).

Ia menjelaskan, kapasitas Chapel yang ada saat ini hanya mampu menampung sekitar 300 hingga 350 orang.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan perlunya dilakukan renovasi dan penataan agar fasilitas yang tersedia dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi sivitas akademika.

Dijelaskannya, dengan jumlah mahasiswa Kristen yang terus bertambah, kapasitas Chapel saat ini tentu perlu ditingkatkan.

“Karena itu, renovasi merupakan bagian dari upaya menyediakan fasilitas yang lebih representatif dan mampu memenuhi kebutuhan pembinaan kerohanian di lingkungan USU,” katanya.

Terkait proses relokasi yang berlangsung, Prof. Robert menegaskan bahwa penataan tersebut merupakan bagian dari proses administratif.

Prof. Robert mengajak seluruh pihak untuk melihat proses tersebut secara utuh dan mengedepankan komunikasi yang baik.

Menurutnya, setiap proses penataan fasilitas di lingkungan perguruan tinggi perlu dilaksanakan dengan tetap menjaga suasana yang kondusif serta menghormati kepentingan seluruh sivitas akademika.

“Kami berharap seluruh pihak dapat memahami proses ini secara proporsional,” ungkapnya.

Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana fungsi pembinaan kerohanian tetap berjalan dengan baik dan fasilitas yang nantinya tersedia dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi warga Kristen di lingkungan USU.

Ketua Panitia Hari Besar Kristen USU yang juga Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, ST MT mengatakan USU tetap memberikan perhatian terhadap keberlangsungan aktivitas keagamaan selama proses renovasi berlangsung.

Ia menjelaskan, pihak universitas memfasilitasi penggunaan gedung selama masa renovasi sehingga kegiatan pembinaan kerohanian dan peribadatan tetap dapat dilaksanakan.

Dikatakannya, selama proses renovasi berlangsung, kampus tetap memfasilitasi gedung yang dapat digunakan untuk kegiatan kerohanian.

“Dengan demikian, kegiatan pembinaan dan aktivitas keagamaan tetap dapat berjalan meskipun Chapel sedang dalam proses penataan dan renovasi,” ujar Himsar.

Prof Himsar menambahkan, penyediaan fasilitas sementara tersebut merupakan bentuk komitmen USU untuk memastikan kegiatan keagamaan sivitas akademika tetap mendapatkan ruang yang memadai.

“Prinsipnya, kegiatan keagamaan tetap difasilitasi. Kami berharap proses renovasi dapat dipahami sebagai bagian dari upaya bersama untuk menghadirkan fasilitas yang lebih baik dan dapat digunakan dalam jangka panjang,” katanya.

Direktur Direktorat Pengelolaan Infrastruktur Akademik USU, Rapido P. Gultom, ST M.Si menegaskan, Chapel USU sejak awal diperuntukkan sebagai rumah ibadah dan tidak pernah direncanakan untuk dialihfungsikan menjadi fasilitas dengan peruntukan lain.

Ia menjelaskan bahwa rencana renovasi Chapel USU bukanlah rencana yang baru muncul, melainkan telah direncanakan sejak tahun 2015.

Renovasi tersebut didasarkan pada pertimbangan kondisi kebutuhan ruang dan lingkungan, termasuk lokasi Chapel yang kerap terdampak banjir ketika curah hujan tinggi, sehingga diperlukan penataan dan peningkatan infrastruktur demi menjamin keamanan dan kenyamanan jemaat.

“Perlu kami tegaskan, Chapel USU tetap diperuntukkan menjadi rumah ibadah bagi civitas akademika dan warga kristen di lingkungan USU,” katanya

Renovasi dilakukan untuk meningkatkan fungsi, kualitas, keamanan, dan kenyamanan bangunan, bukan untuk mengubah fungsi chapel.

“Selama proses renovasi berlangsung, kami juga menjamin tersedianya tempat sementara beribadah sehingga kegiatan peribadatan tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Rapido.

Saat berlangsungnya relokasi, salah seorang warga mendukung rencana renovasi yang akan dilaksanakan USU.

“USU sudah baik, Ini bukan melarang orang beribadah tapi dipindahkan ada tempat sementara.Ini dibuat untuk mahasiswa USU bisa digunakan untuk kegiatan beribadah,” katanya yang merupakan anak Dr. Hotma Panggabean yang ikut membangun Chapel ini.

Dengan adanya renovasi dan peningkatan kapasitas Chapel, USU berharap fasilitas tersebut ke depan dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal bagi mahasiswa, dosen, pegawai, serta warga Kristen di lingkungan USU. ( swisma)