MEDAN-Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara menggandeng Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menjadi tuan rumah Gelar Wicara dan Pagelaran Sastra bertajuk “Dari Sanusi Pane untuk Kedaulatan”.
Kegiatan dilaksanakan jelang akhir bulan lalu di Auditorium UMSU Jalan Muchtar Basri Medan ini dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan RI, sekaligus mengenang sosok sastrawan dan pejuang kebangsaan asal Tapanuli Selatan, Sanusi Pane.
Pada sambutan pembuka, Rektor UMSU Prof. Dr. Agussan MAP diwakili Wakil Rektor III UMSU Assoc. Prof. Dr. Rudianto, M.Si menyampaikan apresiasi kepada Balai Bahasa Provinsi Sumut yang telah menggandeng UMSU dalam kegiatan ini.
“Selamat datang dalam apresiasi ini, dalam memperingati Hari Kemerdekaan dengan mengenang sosok Sanusi Pane. Hampir semua anak Gen Z tidak mengenalnya, maka penting kegiatan ini dilakukan,” katanya.
Rudianto juga menekankan UMSU terus membuka diri sebagai kampus multikultural yang kini telah menerima mahasiswa internasional dari berbagai negara.
“Mahasiswa Internasional di UMSU ini, mereka semua kami ajarkan Bahasa Indonesia melalui program BIPA. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa membantu mengembangkan bahasa Indonesia dan Kampus UMSU. Selamat mengikuti apresiasi dan gelar wicara ini,” tambahnya.
Rudianto juga memperkenalkan secara singkat UMSU sebagai kampus unggul menuju world class university dan akan menggelar Muktamar Muhammadiyah 2027 di kampus IV, Desa Sampali Percut Sei Tuan.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara Dr. Asrif, M.Hum menuturkan, Sanusi Pane memiliki peran besar dalam perjuangan kebangsaan yang kerap terlupakan.
“Terima kasih UMSU atas kemitraan yang telah berjalan dengan hebat. Saya ingin menyampaikan nama Sanusi Pane lebih banyak disebut di Jakarta dibanding di Sumut. Padahal, Sanusi Pane sosok hebat dari Tapanuli Selatan yang memiliki wawasan kebangsaan luar biasa, sama halnya dengan Tabrani sudah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional,” jelasnya.
Dia menambahkan, Sanusi Pane bersama Tabrani menentang usulan Mohammad Yamin terkait butir ketiga Sumpah Pemuda sehingga menjadi bahasa persatuan Indonesia.
“Maka sangat pantas Sanusi Pane kita perjuangkan menjadi Pahlawan Nasional. Pemprov, Pemda Tapanuli Selatan, dan Balai Bahasa wajib melanjutkan perjuangan Sanusi Pane. Kita akan selalu bersama memperjuangkannya sebagai Pahlawan,” tegasnya.
Acara dibuka Ketua Komisi E DPRD Sumatera Utara, Drs. H. Muhammad Subandi ST M.M.
Ia menegaskan pentingnya memberi penghargaan tertinggi bagi para pujangga yang ikut memperjuangkan Indonesia melalui gagasan dan karya sastra.
“Ini perjuangan yang luar biasa dari para pujangga-pujangga dulu. Saya rasa tepat Sanusi Pane mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Buku-buku karya Sanusi Pane ini harus ada di setiap perpustakaan kita agar menambah wawasan,” katanya.
Acara dilanjutkan dengan penampilan monolog tentang Sanusi Pane, dengan narasumber Wakil Bupati Tapanuli Selatan H. Jafar Syahbuddin Ritonga,
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa dari Jakarta Dr. Maryanto, M.Hum dan nara sumner lainnya
Acara dimeriahkan penampilan teater serta penyerahan hadiah festival musikalisasi puisi digital. (Swisma)






