STIKes Mitra Husada Medan Perkuat Kolaborasi Hadapi Tantangan Kesehatan Global melalui Konferensi Internasional 2026

Edukasi109 Dilihat

MEDAN-Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mitra Husada Medan gelar The 6th Mitra Husada Health International Conference (MiHHICo) 2026 di aula kampus tersebut Jalan Pintu Air IV  Kwala Bekala Medan Johor berlangsung pada 26–27 Juni 2026.

Konferensi mempertemukan 40 perguruan tinggi dari 11 negara itu diselenggarakan bersama Competency Learning Center Mitra Husada Medan yang digelar secara hybrid ( luring dan daring) melalui Zoom Meeting.

Forum internasional yang dibuka Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I Prof. Drs. Saiful Anwar Matondang MA Ph.D Ini menjadi ruang kolaborasi untuk membahas transformasi pendidikan, inovasi kesehatan, serta upaya pemulihan global yang berkelanjutan.

Ketua STIKes Mitra Husada Medan, Dr. Siti Nurmawan Sinaga SKM MKes mengatakan, perubahan iklim dan degradasi lingkungan bisa  berdampak langsung pada munculnya berbagai masalah kesehatan global.

Karena itu, kerja sama 40 perguruan tinggi dari 11 negara diharapkan mampu melahirkan riset, pengabdian masyarakat, serta inovasi pelayanan kesehatan yang bersifat preventif, adaptif terhadap lingkungan, dan berkelanjutan.

“Kita ingin memastikan setiap gagasan yang lahir dari forum ini benar-benar menyentuh akar rumput dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Siti menyampaikan,  MiHHICo 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antarperguruan tinggi dalam menjawab tantangan kesehatan global melalui pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan.

“Merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami untuk menyambut kolaborasi luar biasa yang berasal dari 11 negara, sembilan provinsi di Indonesia, serta 40 perguruan tinggi yang saling bergandengan tangan,” katanya.

Ia menjelaskan, konferensi tahun ini mengusung tema Transformation Eco Education: Leading the Way Towards Global Recovery and Sustainability atau Transformasi Pendidikan Ekologi: Memimpin Jalan Menuju Pemulihan Global dan Keberlanjutan.

Tema tersebut menekankan pentingnya pembaruan sistem pendidikan yang menempatkan lingkungan dan keberlanjutan sebagai fondasi utama pembelajaran.

Hal itu sejalan dengan konsep Education for Sustainable Development yang terus didorong di tingkat global.

Menurutnya, forum internasional ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan implementasi nyata kerja sama strategis antarperguruan tinggi.

Selain itu juga sekaligus penguatan indikator Sistem Informasi Manajemen Pemeringkatan Kemahasiswaan (Simkatmawa), baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sinergi lintas negara tersebut juga menjadi bagian dari komitmen institusi pendidikan tinggi terhadap Times Higher Education (THE) Impact Rankings yang menilai kontribusi perguruan tinggi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

“Kita tidak hanya berbicara tentang capaian akademik di ruang kelas, tetapi juga tentang sejauh mana perguruan tinggi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Ia menambahkan, pelayanan prima atau service excellent harus menjadi dasar dari seluruh inovasi pendidikan dan layanan kesehatan.

Ilmu pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi, katanya harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dengan standar terbaik.

Dalam konteks tersebut, konsep one health menjadi semakin relevan karena kesehatan manusia dan kesehatan lingkungan merupakan dua aspek yang saling berkaitan.

MiHHiCo ke-6 diikuti peserta dari 11 negara, yaitu Selandia Baru (Auckland Hospital), Malaysia (MAHSA University dan Lincoln University College), Laos (College of Health Sciences Savannakhet), Vietnam (Quang Tri Medical College), Thailand (Rajamangala University of Technology Krungthep),

Selain itu Timor-Leste (Universidade da Paz), Tanzania (Ministry of Health), Pakistan (Government College University Faisalabad), Bangladesh (Mawlana Bhashani Science and Technology University), Filipina (School of Nursing, Philippine Women’s University), serta Indonesia.

Sedangkan sembilan  provinsi di Indonesia, yakni Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kepulauan Bangka Belitung.

Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkaya pertukaran gagasan dan memperluas jejaring kerja sama internasional di bidang kesehatan dan pendidikan.

Melalui penyelenggaraan MiHHICo ke-6 ini, STIKes Mitra Husada Medan berharap dapat mengambil peran lebih besar dalam memimpin transformasi pendidikan kesehatan yang berorientasi pada keberlanjutan sekaligus berkontribusi terhadap pemulihan dunia pascapandemi dan tantangan lingkungan global.

Ketua Panitia, Dr. Herna Rinayanti Manurung, M.Kes., menyampaikan konferensi internasional ini diikuti 1.663 peserta.

Kegiatan juga dirangkai dengan kompetisi diikuti 534 peserta untuk lomba   artikel ilmiah sebanyak 492, dan 42 peserta untuk lomba poster ilmiah.

Turut memberikan sambutan perwakilan institusi mitra internasional, yakni Direktur College of Health Sciences Savannakhet, Laos, Mr. Nakhonekham Sengchanh, M.N.Sc., serta Direktur Quang Tri Medical College, Vietnam, Ms. Le Thi Phuong.

Keduanya menyampaikan apresiasi atas kerja sama internasional yang terus berkembang dan diharapkan mampu menghasilkan inovasi di bidang pendidikan serta pelayanan kesehatan. (tanai)