Gelar Seminar dan Lomba Debat, USM Indonesia Hadirkan Pembicara dari Korea

MEDAN –  Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia dorong mahasiswa memiliki design thinking (pola pikir) global dan skill (kemampuan) dalam bernegosiasi.

Dalam upaya itu, USM Indonesia menggelar seminar on Cross Culture International Negotiaton Skills yang dirangkai dengan Kompetisi Negosiasi, di aula Ign Washington Purba Hall kampus Jalan Kapten Muslim Medan, Selasa (24/10/2023).

Pada lomba debat negosiasi itu terpilih empat tim terbaik yakni Medan Korean Center, SMA  Masehi Berastagi, Universitas Sumatera Utara dan USM Indonesia.

Pemenang utama dalam kompetisi negosiasi itu akan diberangkatkan ke Korea sebagai hadiahnya.

Tampil sebagai pemenang diraih  Priece EJ Vandenberg P dan Jakobus Amos Timisela P sebagai juara 1.

Juara kedua diraih Anisa Novelia Br Tarigan dan Hans Marvin Bonie P. Sembiring

Di posisi ketiga dimenangkan Zahara Saputriyani dan David Andriano K Manurung dan  keempat diraih Gledys Theresia P Br Tambunan dan Ayu Cahya Ningtia

Sementara pada seminar menghadirkan pembicara dari Korea Kim Minho J.D yang merupakan pakar hukum/ pengacara dan juga CEO Asian Square itu diikuti sekira 200 mahasiswa USM Indonesia dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Fakultas Hukum.

Wakil Rektor IV Rinawati Sembiring SST MKes,  Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Heri Enjang Syahputra SE M.Ak serta jajaran pimpinan lainnya  universitas itu turut mengikuti seminar tersebut.

Ketua Yayasan Sari Mutiara Dr Parlindungan Purba SH MM dalam sambutannya menuturkan USM Indonesia mempunyai visi menjadi universitas yang unggul dan berdesign thinking global.

“Jadi, harapannya mahasiswa USM Indonesia  bukan hanya belajar di tingkat lokal saja dengan keilmuan regional. Misalnya, mahasiswa lulusan Fakultas Hukum jika jadi pengacara bukan hanya pengacara yang menangani kasus lokal atau nasional, tapi bagaimana bisa bicara tentang internasional,” katanya.

Parlindungan Purba mengatakan, USM Indonesia selalu membuka peluang kepada mahasiswa dan alumni untuk mengembangkan diri melalui kerja sama dengan pihak/negara lain.

“Dalam waktu dekat USM Indonesia akan menjalin kerja sama dengan rumah sakit di Korea. Perawat kita bisa magang dan bekerja di sana,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan seminar menghadirkan pembicara dari Korea merupakan salah satu bentuk kongkrit kerja sama. Nantinya, kata Parlindungan, mahasiswa USM Indonesia punya mitra di kantor pengacara Korea.

Parlindungan menyebut Rektor USM Indonesia Dr Dra Ivan Elisabeth Purba MKes mendukung seminar itu.

“Kegiatan seperti ini adalah awal dan akan berkelanjutan. Nanti bisa saja diadakan secara langsung ataupun melalui aplikasi zoom,” ungkapnya.

Disebutkannya, USM Indonesia sudah bekerja sama dan melakukan penandatangan MoU dengan kantor pengacara top di Korea. Selain itu, penandatangan MoU juga dilakukan dengan Asian Square, yaitu sebuah lembaga pemikir.

“Itulah rangkaian kerja sama kita. Ada juga Medan Korea Centre, program bahasa Korea untuk lulusan yang akan bekerja ke negara itu. Kemudian, Asosiasi Smart Industri di Korea yang memiliki 1.600 anggota perusahaan, bisa menjadi tempat magang mahasiswa kita di sana,” sebutnya.

Pada kesempatan itu, Parlindungan menceritakan awal bertemu dan diperkenalkan dengan Kim Minho saat ia diundang ketua DPR Korea ke negeri ginseng itu sebulan lalu. Sedangkan dengan anggota dewan tersebut, Parlindungan telah mengenalnya sejak lima tahun lalu saat berkunjung ke Medan.

Dalam pertemuan tersebut Parlindungan mengaku banyak dibantu Saudaranta Tarigan PhD, lulusan Handong Global University Korea. Mereka berbicara untuk mengadakan Medan Korea Centre dan mencari peluang kerja sama antara Kota Medan, Korea, dan Universitas Sari Mutiara Indonesia.

Terkait negosiasi, menurut Parlindungan, ada enam hal penting yang dibutuhkan, yakni komunikasi (setidaknya menguasai bahasa asing), kecerdasan emosi, perencanaan, pencitraan nilai, strategi, dan refleksi.

Sementara itu, menurut Kim Minho, untuk melakukan negosiasi diperlukan pendekatan budaya.

Didampingi interpreter Saudaranta Tarigan PhD,  Kim Minho berbagi cerita pengalamannya.

Kim Minho pernah diajak suatu perusahaan baja terbesar di dunia yang diundang pemerintah India untuk membangun pabrik baja di salahsatu provinsi negara itu.

Namun, proses pembangunan pabrik itu mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Mereka khawatir akan terjadi masalah terkait agama, lingkungan, dan budaya luar yang masuk ke wilayah tersebut.

“Kami harus melakukan komunikasi dan hubungan  baik dengan warga setempat. Kami beranggapan, walau mendapat izin dari pemerintah pusat tapi tanpa dukungan warga lokal, kegiatan tak akan berjalan. Sayangnya, proyek gagal karena masalah kekhawatiran tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, penting sekali punya ‘saudara’, tak hanya sekadar teman di suatu daerah. Jika sudah punya pemahaman budaya yang sama, kata dia, maka segala perbedaan akan bisa diatasi.

Terkait negosiasi, sebutnya, kalau tak ada kesepakatan antara kedua belah pihak, maka harus punya alternatif lain. Diakuinya, untuk mencapai kesepakatan memang hal yang sulit. Untuk itu, dibutuhkan skill dalam bernegosiasi dan berkomunikasi.

Diungkapkannya, ketika memulai negosiasi, seorang negosiator harus mengenali posisinya berada di pihak yang kuat atau lemah, tinggi atau rendah, maupun posisi seimbang atau setara.

“Posisi kita dalam bernegosiasi menentukan strategi apa yang akan kita gunakan,” ujarnya.

Di akhir pemaparannya,
Kim Minho yang pernah menetap di Kanada dan Amerika, memotivasi mahasiswa USM Indonesia agar dapat menjadi seseorang yang pemikirannya global. (swisma)

Recent Posts