MEDAN-Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) catatkan perjalanan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang medis di Tano Niha; Pulau Nias.
Bagi masyarakat Nias Utara,
kesehatan dan infrastruktur adalah dua hal yang saling berkaitan erat.
Sebelum berbagai pembangunan dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, kondisi jalan antarwilayah yang belum sepenuhnya baik membuat sebagian warga harus menempuh perjalanan panjang untuk mencapai fasilitas kesehatan rujukan.
Pada musim hujan, tantangan tersebut menjadi semakin berat karena beberapa ruas jalan mengalami kerusakan atau sulit dilalui.
Kondisi geografis yang tersebar juga memengaruhi akses terhadap tenaga medis spesialis.
Banyak pasien yang sebelumnya harus dirujuk ke Kota Gunungsitoli atau bahkan ke Medan untuk memperoleh layanan kesehatan lanjutan.
Konsekuensinya bukan hanya waktu tempuh yang panjang, tetapi juga biaya transportasi dan biaya hidup pendamping pasien yang tidak sedikit bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.
Tantangan PPDS
Bagi dr. Trinidia Lubis, M.Ked(OG), PPDS Fakultas Kedokteran USU yang baru usai menjalani masa residensi di Pulau Nias, suasana di kepulauan tersebut sangat mengesankan.
Trinidia bersama beberapa temannya sesama PPDS FK USU ditempatkan pada wilayah yang berbeda.
Ia bertugas di RS dr M Thomsen Gunungsitoli, rumah sakit rujukan utama di Kepulauan Nias.
Sementara teman-temannya, dr. Ricky Bonatio Hutagalung, dr. Devinda Villarsi, dr. Edgar Anthony Petra Sihite dan dr.Margareth Duma Sari Sirait bertugas di RS Tafaeri, Lotu, Nias Utara.
Selama tiga bulan, terhitung dari awal Maret 2026 lalu, mereka bertugas sebagai dokter spesialis yang menyandang nama Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Didampingi tim program studi dan fakultas, PPDS dari bidang Ilmu Penyakit Dalam, Obstetri dan Ginekologi, Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta Patologi Klinik tersebut diserahterimakan ke rumah sakit penempatan masing-masing.
Untuk para dokter muda tersebut, bertugas di daerah kepulauan awalnya tentu menghadirkan bayangan yang sedikit mencemaskan.
Keterbatasan fasilitas, sulitnya komunikasi dengan pasien, hingga rendahnya pemahaman masyarakat terhadap layanan kesehatan modern, adalah bayangan yang berkecamuk di pikiran. Namun kenyataan yang dihadapi di lapangan, justru tidak seseram itu.
“Tantangan bertugas di sini yang awalnya kami pikir akan sangat menyulitkan, ternyata tidak demikian.,” kata dr Trinidia, PPDS Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) FK USU melalui humas, Selasa (7/7/2026).
Disebutkannya, ada beberapa kendala untuk komunikasi dengan para pasien yang umumnya menggunakan bahasa daerah, namun bisa diatasi dengan bantuan perawat yang menerjemahkan dan keluarga pasien yang cukup kooperatif.
Selama menjalani residensi, para dokter PPDS bertugas di berbagai unit pelayanan, mulai dari poliklinik, instalasi gawat darurat (IGD), hingga ruang operasi.
Setiap tindakan medis yang mereka lakukan didokumentasikan sebagai bagian dari proses pendidikan spesialis yang menuntut pengalaman klinis dari berbagai variasi kasus.
Di RSUD dr. M. Thomsen Gunungsitoli, jumlah kasus yang ditangani pada bagian obgyn tergolong tinggi.
Berdasarkan pernyataan dr Trinidia, dalam satu bulan rumah sakit ini dapat menangani sekitar 35 operasi sesar (Sectio Caesarea) dan tujuh hingga delapan tindakan histerektomi atau pengangkatan rahim.
Padahal, dokter spesialis obstetri dan ginekologi bertugas hanya dua orang, salah satunya yang mendekati masa pensiun.
Kondisi tersebut tentu membuat kebutuhan akan tenaga dokter spesialis menjadi semakin mendesak.
Meski demikian, tantangan terbesar justru bukan dari banyaknya pasien yang harus ditangani, melainkan keterbatasan sistem penunjang pelayanan kesehatan. Di mana salah satu persoalan paling krusial adalah ketersediaan darah.
dr Trinidia mengatakan, operasi obstetri itu sangat bergantung pada darah. Masalahnya, pelayanan bank darah tidak tersedia selama 24 jam.
Setelah pukul 22.00 malam bank darah sudah tutup, padahal kasus gawat darurat bisa datang kapan saja.
Sementara di RS Tafaeri Nias Utara, kata Trinidia, temannya mengalami tantangan yang lebih besar, karena di rynah sakit ini tidak ada bank darah.
Sehingga tindakan medis yang dilakukan harus benar-benar dipertimbangkan.
” Makanya pasien dari Nias Utara sering harus dikirim ke Gunungsitoli karena ketiadaan darah,” imbuh dr Trinidia.
Dalam kondisi normal, keterbatasan tersebut mungkin tidak terlalu terasa. Namun bagi pasien yang mengalami perdarahan hebat saat persalinan, setiap menit menjadi penentu keselamatan jiwa.
Keterbatasan juga dirasakan pada layanan penunjang diagnostik.
Untuk pemeriksaan patologi anatomi, misalnya, rumah sakit belum memiliki dokter spesialis sehingga setiap sampel biopsi harus dikirim ke Medan. Akibatnya, proses penegakan diagnosis penyakit, termasuk dugaan kanker, membutuhkan waktu lebih lama.
Persoalan berikutnya muncul ketika pasien membutuhkan penanganan subspesialis yang belum tersedia di Pulau Nias.
Sebagai rumah sakit rujukan utama di kepulauan tersebut, RSUD dr. M. Thomsen kerap menghadapi dilema.
Di satu sisi pasien membutuhkan tindakan medis lanjutan, namun di sisi lain fasilitas maupun tenaga subspesialis belum tersedia. Pilihan akhirnya adalah merujuk pasien ke Medan.
Namun bagi masyarakat kepulauan, proses rujukan bukanlah perkara sederhana. Selain biaya transportasi yang besar, pasien juga harus menempuh perjalanan laut atau udara dengan berbagai persyaratan administrasi.
Bahkan, untuk menggunakan kapal atau pesawat, keluarga pasien masih harus mengurus surat keterangan yang menyatakan penyedia transportasi tidak bertanggung jawab apabila terjadi kondisi darurat selama perjalanan. Proses administrasi tersebut dapat memakan waktu dua hingga tiga hari.
“Kadang kami tahu pasien ini membutuhkan subspesialis. Tapi kami juga melihat kondisi ekonomi keluarganya. Untuk sampai ke Medan saja sudah menjadi beban besar, terlebih melanjutkan perjalanan melalui darat yang memakan waktu tidak sebentar,” terang Trinidia.
Tidak sedikit pula pasien yang datang dari Kabupaten Nias Utara. Menariknya, bukan karena daerah tersebut kekurangan dokter. Karena di RSUD Tafaeri Nias Utara sebenarnya telah ditempatkan dokter PPDS Obgyn dan Anestesi dari FK USU.
Namun keterbatasan fasilitas, terutama belum tersedianya bank darah dan kemampuan ICU yang masih terbatas, membuat sebagian kasus harus dirujuk ke Gunungsitoli.
Selain itu, masih ada faktor kepercayaan masyarakat. Sebagian pasien memilih langsung menuju RSUD dr. M. Thomsen karena menganggap dokter yang baru bertugas di rumah sakit Tafaeri belum cukup berpengalaman.
Dalam satu bulan, sekitar enam hingga tujuh pasien dirujuk dari Nias Utara ke RSUD dr. M. Thomsen. Bahkan, ada pula pasien yang datang langsung tanpa melalui mekanisme rujukan sesuai prosedur.
“Padahal dokter PPDS yang ditempatkan di sana juga kompeten. Tetapi persepsi masyarakat masih menjadi tantangan,” Trinidia mengisahkan ulang kendala yang dihadapi temannya yang bertugas di Nias Utara.
Minim Darah
Dari seluruh pengalaman selama bertugas di Nias, ada satu kisah yang paling membekas di ingatan Trinidia.
Ketika seorang ibu datang ke rumah sakit pada dini hari dalam kondisi syok akibat mengalami perdarahan pascapersalinan.
Dia melahirkan bayinya di rumah sekira pukul 19.00 WIB yang ditangani dukun beranak
Saat tiba di IGD, sekira pukul 01.00 dini hari, kondis sangat memburuk, tubuhnya pucat dan tekanan darah tidak lagi dapat diukur.
Trinidia bersama tim medis lainnya segera melakukan tindakan penyelamatan. Luka berhasil ditangani. Sayangnya satu kebutuhan paling penting tidak tersedia, yaitu darah, karena pelayanan darah tutup sejak pukul 22.00 WIB.
Cairan infus memang dapat diberikan untuk mempertahankan sirkulasi sementara, tetapi pada kasus perdarahan masif, darah tetap menjadi satu-satunya terapi utama yang mampu menyelamatkan nyawa. Meski seluruh upaya telah dilakukan, pasien akhirnya tidak dapat diselamatkan.
“Bukan karena kami tidak melakukan tindakan. Tetapi karena pada kondisi seperti itu pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya. Darah harus diganti dengan darah,” sebut Trinidia.
Kisah tersebut menjadi gambaran nyata bahwa tantangan pelayanan kesehatan di daerah kepulauan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas medis, tetapi juga faktor sosial dan budaya.
Selain itu kepercayaan masyarakat terhadap dukun beranak masih sangat kuat.
Sebagian keluarga baru membawa pasien ke rumah sakit ketika seluruh upaya tradisional dianggap tidak lagi mampu membantu.
Padahal, pada kondisi kegawatdaruratan obstetri, keterlambatan beberapa jam saja dapat menentukan hidup atau mati seorang ibu.
Bagi para dokter PPDS, tiga bulan bertugas di Pulau Nias bukan sekadar menjalani proses pendidikan spesialis.
Mereka belajar bahwa menjadi dokter berarti memahami realitas masyarakat secara utuh, mulai dari keterbatasan infrastruktur kesehatan, tantangan geografis wilayah kepulauan, hingga nilai-nilai budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Pengalaman tersebut sekaligus menegaskan bahwa peningkatan kualitas layanan kesehatan di daerah tidak cukup hanya dengan menghadirkan tenaga medis.
Dibutuhkan juga penguatan fasilitas rumah sakit, ketersediaan layanan penunjang yang beroperasi 24 jam, sistem rujukan yang lebih cepat, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai
pentingnya persalinan yang aman di fasilitas kesehatan.
Karena pada akhirnya, menyelamatkan nyawa tidak hanya bergantung pada kemampuan seorang dokter, tetapi juga pada hadirnya sistem pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau setiap masyarakat, kapan pun mereka membutuhkan.
Implementasi MoU
FK USU dan Pemerintah Kabupaten Nias Utara resmi tandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada awal Maret 2026 sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang dilakukan sebelumnya.
PKS tersebut menegaskan komitmen USU dalam mendukung program pemerintah, khususnya program Kementerian Kesehatan RI dan pemerintah provinsi Sumut ( Pemprovsu) dalam pengembangan pelayanan kesehatan di daerah tertinggal dan kepulauan, termasuk Pulau Nias.
Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah pemberian prioritas kepada dokter putera asli daerah yang berkomitmen mengabdi kembali di Nias untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di FK USU dengan pembiayaan dari Pemprovsu
Program yang telah berjalan selama satu tahun itu hingga saat ini FK USU telah menerima tujuh dokter putera asli Nias, empat di antaranya dari Nias Utara yang mengambil program spesialisasi di bidang Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Bedah, Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta Radiologi.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan akses layanan kesehatan spesialis di Kabupaten Nias Utara.
Saat ini Nias Utara memiliki 11 puskesmas rawat inap yang tersebar di seluruh kecamatan dan satu rumah sakit daerah, yaitu RSUD Tafaeri yang menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan kabupaten.
Namun tantangan ketersediaan tenaga kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah, yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan seluruh wilayah.
Karena itu, kehadiran layanan spesialis di RSUD Tafaeri memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar penambahan jenis pelayanan.
Kehadiran dokter spesialis berarti memangkas jarak, mengurangi biaya pengobatan, percepat penanganan pasien, dan meningkatkan peluang kesembuhan masyarakat.
Karena itu, ketika layanan dokter spesialis mulai hadir lebih dekat melalui RSUD Tafaeri, yang datang bukan hanya pelayanan kesehatan, namun sebuah harapan baru bagi ribuan warga di ujung utara Pulau Nias.
Dalam konteks itulah kerja sama antara FK USU dan Pemkab Nias Utara menjadi sangat strategis.
Kehadiran dokter residen, penguatan kapasitas tenaga kesehatan lokal, hingga program pendidikan dokter spesialis bagi putra-putri daerah merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kemandirian layanan kesehatan di kawasan kepulauan tersebut.
Antrian Mengular
FK USU bersama RSUD Tafaeri dan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Utara sebelumnya telah melaksanakan pengabdian kepada masyarakat (Pengabmas) di RSUD Tafaeri Desa Lolofaoso, Kecamatan Lotu, Nias Utara, pada Maret 2026.
Pengabmas yang dilakukan para dosen FK USU tersebut meliputi pemeriksaan antenatal dan ultrasonografi (USG) bagi ibu hamil, pemeriksaan/skrining batu empedu, pemeriksaan pemeriksaan Hb dan KGD serta pelatihan kegawatdaruratan bagi tenaga kesehatan RSUD Tafaeri.
Kegiatan tersebut disambut antusias masyarakat yang memenuhi ruang-ruang pelayanan bahkan meluber hingga memenuhi sepanjang koridor rumah sakit.
Ini merupakan pelayanan yang sangat jarang mereka dapatkan, sehingga tak mungkin dilewatkan dengan percuma.
Implementasi salah satu tri darma perguruan tinggi tersebut menghadirkan dr Inke Nadia Diniyanti Lubis, PGDip PID FAAET, M.Ked(Ped), Sp.A, Ph.D dengan anggota Dr rer medic dr M Ichwan, M.Sc, Sp.KKLP, Subsp.FOMC, Dr dr Taufik Sungkar, M.Ked (PD), Sp.PD, Subsp, GEH (K).
Selain itu dr Andriamuri Primaputra Lubis, M.Ked (An), SpAn-TI, Subsp TI (K), dr Nindia Sugih Arto, M.Ked(Clin.Path) Sp.P.K. Subsp.N.R. (K), dr Iman Helmi Effendi, M.Ked (OG), Sp.OG (K), dr Malayana Rahmita Nasution, M.Ked (Clin.Path) Sp.P.K. Subsp.H.K. (K), serta para dokter residen USU.
Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga jelang sore hari sukses melayani 23 pasien untuk bagian obstetri dan ginekologi, 114 orang pada pelayanan penyakit dalam dan 80 orang di bagian patologi klinik.
Pada pelayanan di bagian penyakit dalam keluhan masyarakat yang berobat umumnya penyakit diabetes mellitus, hipertensi, dyspepsia, hiperkolesterolemia, osteoarthritis.
Kemudian penyakit saluran nafas, cholelithiasis (batu empedu), nefrolithiasis (batu ginjal), hipertiroid (penyakit tiroid) dan gastroeosophageal reflux disease (GERD).
Dr dr Taufik Sungkar, M.Ked (PD), Sp.PD, Subsp, GEH (K), memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengenalan gejala penyakit batu empedu dan tindak pencegahan komplikasinya.
Saat mereka tahu di RSUD Tafaeri sudah ada dokter spesialis penyakit dalam, mereka sangat gembira.
“Selama ini akses untuk dapat berobat ke dokter spesialis penyakit dalam cukup terbatas, karena pelayanan dokter spesialis penyakit dalam hanya satu kali dalam seminggu,” ungkap Dr Taufik.
Ia berharap, melalui edukasi yang diberikan, masyarakat dapat terbantu untuk mengenali faktor penyebab, gejala dan tindak pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.
Dalam pengabdian masyarakat tersebut juga diberikan pelatihan kegawatdaruratan bagi tenaga kesehatan RSUD Tafaeri, yang diikuti para perawat dan dokter umum di RSUD dan puskesmas se-Nias Utara.
Dimentori dr Andriamuri Primaputra Lubis, M.Ked (An), SpAn-TI, Subsp TI (K). Pelatihan tersebut membahas tentang Early Warning Score (EWS) dan Bantuan Hidup Dasar (BHD), yang bertujuan memberikan pelayanan survival maksimal dan antisipasi perburukan klinis bagi pasien.
Dr Inke Nadia selaku ketua kegiatan menegaskan, tujuan pengabdian masyarakat tersebut untuk memperkenalkan kepada masyarakat Nias Utara
Disenutkan, saat ini pelayanan kesehatan di RSUD Tafaeri tidak lagi hanya sebatas dokter spesialis anak, tetapi juga didukung tenaga kesehatan dari fakultas kedokteran USU mencakup spesialis penyakit dalam, anestesi, obstetri dan ginekologi serta patologi klinik.
“Kami tidak hanya langsung turun untuk memberikan pelayanan kesehatan, melainkan juga memberikan promosi untuk rumah sakit, sehingga operasional RSUD Tafaeri dapat terus berlangsung dengan animo semakin meningkat dari masyarakat,” tandas dr Inke.
Ia juga mengharapkan kepada semua dokter residen FK USU yang ditempatkan di rumah sakit, agar dapat terus melakukan capacity building, termasuk dalam bentuk pengabdian masyarakat dari FK USU.
“Para dokter residen harus bisa melatih tenaga kesehatan baik yang ada di RSUD maupun puskesmas, sehingga keterampilan mereka bisa bertambah dan memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat,” imbuhnya.
Kerja Belum Selesai
Bagi FK USU, perjalanan dan pengabdian masyarakat ke Nias Utara ini bukanlah akhir.
Apa yang telah dilakukan itu, masih ada episode dan rencana lanjutan yang akan diwujudkan untuk memaksimalkan kerja sama dan layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Demikian halnya bagi Pemkab Nias Utara dan masyarakat yang memandang kerja sama ini sebagai pintu masuk bagi layanan kesehatan lebih mumpuni.
Keberadaan dokter spesialis yang lebih banyak, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan komitmen untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Di ujung utara Pulau Nias, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: bahwa pembangunan kesehatan bukan hanya soal gedung dan peralatan, melainkan tentang menghadirkan harapan, menjaga kehidupan, dan memastikan tidak ada masyarakat tertinggal dalam memperoleh layanan kesehatan yang layak. ( swisma)