Bangun Kolaborasi Akademik Global, STIKes Mitra Husada Medan Perkuat Internasionalisasi lewat MiHHICo 2026

Pemenang Scientific Article dan Scientific Poster MiHHiCo 2026 Diumumkan

Edukasi85 Dilihat

MEDAN– Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mitra Husada Medan tegaskan komitmennya  perluas jejaring kerja sama global melalui konferensi internasional.

Sebagai perguruan tinggi unggul, kampus ini perkuat internasionalisasi dengan membangun kolaborasi akademik global.

Kerja sama strategis itu diwujudkan lewat The 6th Mitra Husada Health International Conference (MiHHICo) 2026  yang diikuti 11 negara dan 9 provinsi di Indonesia dengan melibatkan 40 perguruan tinggi.

Event internasional digelar keenam kalinya itu mengusung tema “Eco-Education Transformation: Leading the Way Towards Global Recovery and Sustainability”,

Pada  konferensi ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan, inovasi, dan penguatan jejaring akademik lintas negara dengan rangkaian forum ilmiah, kompetisi, dan kolaborasi akademik

Ketua STIKes Mitra Husada Medan, Dr. Siti Nurmawan Sinaga, SKM., M.Kes, menilai penyelenggaraan MiHHICo ke-6 memberikan dampak luar biasa terhadap pencapaian indikator kinerja utama perguruan tinggi, khususnya dalam upaya internasionalisasi kampus.

Menurut Siti, sebagai perguruan tinggi unggul, STIKes Mitra Husada  komit menjalankan berbagai indikator yang ditetapkan pemerintah, termasuk memperkuat kerja sama dan reputasi di tingkat global.

Kegiatan ini dinilainya sangat penting bagi mahasiswa dan perguruan tinggi untuk meningkatkan ranking internasional maupun nasional.

“Apa yang kami lakukan saat ini merupakan langkah yang luar biasa,” katanya saat menutup konfetensi internasional itu di aula kampus  Jalan Pintu Air IV, Kwala Bekala, Medan Johor, Sabtu (27/6/2026).

Disebutkannya, jika pada penyelenggaraan sebelumnya MiHHICo hanya melibatkan lima negara, tahun ini jumlah peserta internasional meningkat menjadi 11 negara, dan 9 provinsi di Indonesia, dengan keterlibatan aktif dosen dan mahasiswa dalam berbagai kompetisi ilmiah.

Ia juga mengungkapkan kebanggaannya atas capaian institusi yang berhasil meraih tiga penghargaan silver dalam kompetisi internasional di Malaysia yang diikuti sekitar 1.000 peserta dari berbagai negara.

“Kami berharap pada MiHHICo 2027 semakin banyak negara yang berpartisipasi, tidak hanya dari ASEAN dan Asia, tetapi juga Eropa. Harapan kami, kampus ini tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga memberi dampak di tingkat internasional,” ujarnya..

Siti mengapresiasi seluruh peserta, narasumber, panitia, dan mitra yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan MiHHICo 2026.

Melalui kegiatan ini, dia berharap lahir inovasi-inovasi unggul yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Selain itu diharapkan juga  memperkuat kontribusi dunia pendidikan tinggi dalam mewujudkan pembangunan global yang berkelanjutan

Ketua Panitia MiHHICo 2026, Dr. Herna Rinayanti Manurung, S.Tr.Keb., Bd., M.Kes, menegaskan tema yang diusung tahun ini selaras dengan upaya mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Menurut Herna, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Dikatakannya  seluruh perguruan tinggi diwajibkan berkontribusi dalam penyelesaian berbagai permasalahan atau problem solving sesuai dengan 17 tujuan SDGs

Herna menjelaskan, terdapat minimal empat indikator kinerja utama yang harus diwujudkan perguruan tinggi untuk memperkuat kiprah di tingkat global, antara lain pengentasan kemiskinan, penghapusan kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan berkualitas, serta kemitraan internasional.

Ia menilai pelaksanaan MiHHICo menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata STIKes Mitra Husada Medan dalam mendiseminasikan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui forum internasional.

“Ini memberikan dampak sosial, ekonomi, lingkungan, dan kesehatan. Semua itu merupakan wujud dari konsep eco-green dalam pendidikan tinggi yang saat ini terus didorong pemerintah,” katanya.

Herna menambahkan, implementasi program pembangunan berkelanjutan memerlukan pendekatan pentahelix yang melibatkan perguruan tinggi, organisasi profesi, pemerintah, dunia usaha, dunia industri, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi kunci untuk mengatasi berbagai tantangan pembangunan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara global.

Pada hari terakhir pelaksanaan konferensi, panitia juga mengumumkan para pemenang Parallel Session Competition: Scientific Article and Scientific Poster (lomba artikel ilmiah dan poster ilmiah) yang menjadi salah satu agenda penutup MiHHICo 2026.

Kategori penghargaan pada Scientific Article Competition meliputi The Best Scientific Paper, The Best Presentation, The Most Impactful Research, The Best Performance, The Best Holistic and Globally Competitive Innovator,

Kemudian The Best Excellent in Sustainable Innovation-Led Economic Growth, Innovation-Led Educational Quality, Leading International Collaborative Impact, The Best Applied Technology Innovation, The Best Excellent in Academic Referencing and Scholarly Standards, serta The Best Substantive Editing.

Sementara itu, pada kategori Scientific Poster Competition, penghargaan diberikan untuk The Best Poster Design, The Best Presentation, The Most Informative Poster, The Best Performance.

Selain itu The Best Scientific Poster in Innovation-Led Economic Growth, The Best Scientific Poster in Sustainable Innovation-Led Educational Quality, The Most Innovative Solution Poster, dan The Best Leading International Collaborative Impact Poster.

Pengumuman pemenang disambut antusias oleh para peserta yang telah mengikuti proses seleksi, presentasi artikel, serta penilaian poster ilmiah selama kegiatan berlangsung.

Selain pengumuman pemenang, kegiatan turut diisi sesi impression from participants, di mana para peserta menyampaikan pengalaman dan kesan positif selama mengikuti kegiatan.

Para peserta menilai MiHHICo tidak hanya menjadi forum akademik untuk berbagi ilmu pengetahuan, tetapi juga membuka peluang jejaring kolaborasi penelitian di tingkat nasional maupun internasional.

Selain itu, panitia menyampaikan laporan monitoring dan evaluasi sebagai bentuk refleksi atas pelaksanaan kegiatan selama dua hari penyelenggaraan.

Laporan tersebut menyoroti keberhasilan konferensi dalam menghadirkan diskusi ilmiah yang produktif, meningkatkan partisipasi peserta, serta memperkuat budaya penelitian dan inovasi di lingkungan akademik. (St)