1 909 Mahasiswa USU Belajar dan Berkarya di Desa lewat KKNT 2022

GLOBALMEDAN.COM, MEDAN– Sekira 1.909 mahasiswa Universitas Sunatera Utara (USU) melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) 2022 di sejumlah desa di Sumut.

Pada pelaksanaan KKN itu Rektor USU, Dr Muryanto Amin melepas secara simbolis di pelataran Gedung Biro Pusat Adminitsrasi USU.

Rektor menyatakan, KKNT dilakukan untuk mendukung integrasi penerapan nilai-nilai pengajaran, penelitian dan pengabdian guna memberikan manfaat praktis kepada masyarakat dan merupakan bagian dari program MBKM.

Menurutnya, USU memiliki kewajiban untuk mewujudkan pengabdian kepada masyarakat.

“Program KKNT USU berbasis pada SDGs Desa Kemendes PDTT dengan tujuan menyiapkan mahasiswa menjadi lulusan yang berkapasitas sebagai pembelajar sejati yang kompeten, lentur dan ulet (agile learner),” ujarnya.

Untuk itu, Muryanto berpesan, agar peserta KKNT USU dapat belajar di desa dengan penuh semangat, bertanggung jawab, menjaga diri dan menjaga nama baik almamater.

“Dengan mengikuti KKNT, mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmunya secara langsung di lapangan. Selanjutnya mendapat kemudahan, menjaga kesantunan, serta dapat kembali dengan tetap sehat dan selamat,” ucapnya.

Para peserta KKNT USU, baik yang reguler maupun diperpanjang  diberangkatkan secara bertahap dari 8 hingga 15 September lalu.

Untuk KKNT Reguler, para mahasiswa USU disebar pada 7 kabupaten/kota di Sumatera Utara, yakni; Karo, Dairi, Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan dan Padang Lawas.

Sementara untuk KKNT Diperpanjang juga ditempatkan pada 7 kabupaten/ kota, yakni Medan, Langkat, Binjai, Deli Serdang, Tebing Tinggi, Asahan dan Batubara.

Bagi yang ditempatkan di wilayah Kota Medan, tentu tidak banyak adaptasi yang harus dilakukan sepanjang KKNT berlangsung.

Namun tidak demikian halnya dengan yang ditempatkan di daerah. Ahmad Tarmizi, adalah salah satunya.

Mahasiswa program studi Ilmu Hukum USU angkatan 2019 tersebut mendapatkan banyak pengalaman baru selama beberapa hari mengikuti program tersebut.

Ahmad Tarmizi merupakan satu dari 152 mahasiswa yang berasal dari 3 fakultas, yakni; fakultas hukum, pertanian, dan ilmu budaya yang ditempatkan di Desa Sipira, Kecamatan Onan Runggu, Samosir.

Para mahasiswa USU itu sebelumnya dibagi menjadi 9 kelompok, untuk 3 lokasi KKNT, yaitu Desa Sipira Kecamatan Onan Runggu, Desa Tomok dan Kelurahan Tuktuk Siadong Kecamatan Simanindo.

Tarmizi memulai kegiatan KKN dari 21 September  dan direncanakan akan berakhir pada 23 Oktober 2022.

Ia mengaku banyak pengalaman berkesan yang dilaluinya., seperti memanen tanaman kopi, terong belanda dan alpukat di ketinggian +/- 1200 mdpl.

“Itu benar-benar pengalaman mengesankan. Apalagi saya memang belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Saat memanen itu sekaligus dapat melihat pemandangan Danau Toba yang indah beserta bukit-bukitnya. Udara juga sangat segar dan alami, berbeda dengan di Medan,” ungkapnya yang disampaikan melalui tim humas USU, Jumat (7/10/2022).

Ia menuturkan, rutinitas harian yang dilakukannya selama KKN dimulai dari bangun tidur pukul 06.00 WIB dilanjutkan membereskan tempat tidur dan mencuci piring bersama teman-teman satu kelompok.

Setelah itu, bersama kelompok ia mulai melakukan program kerja dari pukul 9 pagi hingga 12 siang dan dilanjutkan makan siang serta istirahat yang dijadwal pukul 12.00 hingga 14.00 WIB.

Usai istirahat kembali meneruskan program kerja sampai pukul 17.30 WIB dan dilanjutkan dengan sholat Magrib dan Isya berjamaah.

Setelah makan malam, kegiatan ditutup dengan melakukan evaluasi harian rutin untuk kegiatan esok hari.

Tarmizi memaparkan, selama KKN mereka diajarkan untuk membangun chemistry antar teman supaya bisa diajak bekerja sama dan berkolaborasi membangun desa yang ditempati.

Menurutnya, banyak ide yang muncul dari teman satu kelompok. Namun pada hari eksekusi justru mereka menjadi kurang semangat untuk melakukannya, sehingga menghambat atau memperlambat selesainya program kerja.

“Maka setiap harinya kami selalu ada evaluasi atau musyawarah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Hal itu menjadi pengalaman untuk menghadapi persoalan-persoalan lain di hari berikutnya,” ujarnya.

Sebagai pimpinan di kelompok, Tarmizi merasa bersyukur mendapatkan banyak ilmu leadership, tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik.

Ia juga belajar cara bersosialisasi di masyarakat dengan adat yang sangat kontras dengan masyarakat kota. Selain itu juga belajar cara berkebun dan mengolah kopi dari masyarakat setempat.

“Kami sangat bersyukur masyarakat sangat welcome dengan kedatangan. Mereka menyambut kami dengan hangat, bahkan diberikan rumah sewa gratis selama KKN berlangsung,” paparnya.

Menurutnya, ketika melakukan program kerja, seperti membersihkan aliran mata air, mereka dipinjamkan alat-alat yang diperlukan. Bahkan warga desa juga ikut turun tangan memberi bantuan tenaga.

Selama KKN, mereka ditempatkan salah satu rumah perangkat desa, berupa rumah adat Batak untuk
satu rumah dihuni 17 mahasiswa.

Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam rutinitas sehari-hari adalah persoalan MCK (mandi, cuci, kakus).

Di minggu pertama kamar mandi tidak bisa dipakai karena tumpat dan hanya bisa dipakai untuk perempuan.

” Karena persediaan air juga susah, maka yang laki-laki terpaksa mandi di sumber mata air. Di situ jugalah kami mencuci pakaian,” katanya.

Ia berharap, setelah KKN berakhir, semoga USU dapat lebih mendalami atau mensurvei lebih dahulu tema yang diberikan untuk setiap desa, agar program kerja dapat lebih efektif dijalankan dan sesuai dengan yang diharapkan mahasiswa, masyarakat serta universitas.

Tentu saja, bukan hanya Ahmad Tarmizi yang merasakan perubahan dan pengalaman baru dalam KKNT USU 2022. Masih ada ribuan mahasiswa lain yang mengalami pengalaman berbeda di dalam pelaksanaan KKNT.

Mereka juga tidak hanya ada di desa-desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Namun juga disebar di desa nelayan, desa wisata dan sebagainya, yang tentunya memiliki lebih banyak pengalaman menarik.

Mereka berbaur dan terlibat dalam kegiatan bersama masyarakat setempat, melakukan berbagai program kerja dan beraktivitas. Ada yang ikut bertani, nelayan, bertenun maupun peningkatan ekonomi produktif.

Para mahasiswa  juga melaksanakan kegiatan edukatif kepada masyarakat, berupa sosialisasi berbagai upaya peningkatan ekonomi dan produksi, dan lainnya.

Dengan mengikuti KKNT, mereka diharapkan memiliki kemampuan, keahlian dan pandangan baru tentang realitas kehidupan sebenarnya, yang mampu diselaraskan dengan ilmu pengetahuan didapatkan di kampus.

Sekretaris LPPM USU Meutia Nauly SPsi, M.Si, Psikolog berharap, agar proses KKNT ini dapat berjalan dengan baik, dalam konteks mahasiswa belajar mengenai menjaga kesantunan dan menghargai penduduk desa.

Skema KKN sendiri dilaksanakan untuk 10 kategori yakni; Desa Sehat (Peningkatan Kesehatan masyarakat dan lingkungan), Desa Wisata (Peningkatan manajemen bisnis wisata), Desa Tangguh Bencana (Mitigasi dan peningkatakan kapasitas mewujudkan DESTANA),

Kemudian Desa Literasi Digital (Peningkatan pemahaman & penggunaan tentang TIK), Desa Budaya (Pelestarian Budaya dan Kearifan Lokal), Desa Pintar (Pemberdayaan pendidikan formal dan nonformal), Desa Ekonomi Bangkit (Peningkatan Produksi Ekonomi Kreatif dan UMKM).

Selain itu juga kategori  Desa Hijau (Pemanfaatan sumberdaya lingkungan dan pertanian), Desa Toleran (Peningkatan Pemahaman Hukum dan pengukuhan tatanan sosial masyarakat) dan Desa Sejahtera (Peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi).

KKNT regular bersifat wajib dan bernilai setara 4 SKS dengan durasi 7 minggu. Sedangkan KKNT MBKM atau diperpanjang bersifat pilihan dan bernilai setara 16 SKS dengan durasi 16 minggu.

Belajar dan berkarya di desa adalah program KKNT USU yang dilandasi semangat pemberdayaan dan pembangunan desa, khususnya di wilayah  Sumut.

Program ini merupakan bentuk pendidikan yang memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa, untuk hidup di tengah masyarakat desa.

Tujuannya adalah untuk mengasah softskill dan hardskill kemitraan serta leadership mahasiswa dalam mengelola program pembangunan di wilayah pedesaan.

Pelaksanaannya secara kolaborasi interdisiplin ilmu maupun monodisiplin kompetensi. Teknisnya, situasi, kondisi dan potensi desa dianalisis dan diformulasikan solusinya secara kolaboratif bersama masyarakat.

Melalui program ini mahasiswa diharapkan dapat berkarya secara akademis. Tidak hanya solutif dan tepat guna terhadap masalah desa, tetapi juga mesti dapat menopang pengembangan potensi desa.

Direktur Direktorat Pengembangan Pendidikan USU, Dr. Muhammad Anggia Muchtar, ST, MMIT, menegaskan, KKN memberikan banyak kontribusi positif bagi para mahasiswa dalam membentuk karakter unggul.

Menurutnya, KKN itu mengajarkan nilai-nilai dan cara bersosialisasi, berkomunikasi, interaksi, dan kemampuan menjadi anak mandiri dalam segala hal.

“Nilai-nilai revolusi mental, etos kerja, gotong-royong, dan integritas ditanamkan kepada seluruh peserta KKN, sehingga dapat membentuk karakter kuat generasi Bangsa Indonesia di kemudian hari,” tandasnya. ( swisma)

Recent Posts