MEDAN-Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat inflasi tahunan atau year-on-year sebesar 4,79 persen pada Juni 2026 dengan Indeks Harga Konsumen ( IHK) mencapai 113,26.
“Wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi di Sumatera Utara 6,25 persen dan IHK sebesar 115,71 terjadi di Gunungsitoli,” kata Kepala BPS Sumatera Utara Asim Saputra, Rabu (1/7/2026).
Sedangkan tingkat inflasi tahunan terendah tercatat sebesar 4,46 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 112,84 di Kabupaten Karo
Disebutkannya, inflasi terjadi disebabkan pergerakan harga berbagai komoditas pada Juni 2026 secara umum memang menunjukkan tren peningkatan.
Sedangkan tingkat inflasi dari bulan ke bulan atau month-to-month pada Juni 2026 berada di angka 0,23 persen.
Sementara tingkat inflasi tahun kalender atau year-to-date mencapai 0,90 persen.
Dijelaskannya, inflasi y-on-y itu terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 11 indeks kelompok pengeluaran meliputi kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,57 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,36 persen.
Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,75 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 1,35 persen; kelompok kesehatan naik 2,56 persen, kelompok transportasi naik 4,75 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik 3,45 persen
Selain itu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik 1,57 persen; kelompok pendidikan naik 3,45 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 3,59 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 9,55 persen.
Dia juga memaparkan, komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi y-on-y pada Juni 2026, antara lain: emas perhiasan sebesar 0,53 persen; cabai merah sebesar 0,41 persen; bensin sebesar 0,18 persen; beras dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,17 persen.
Komoditas lain yang ikut menyumbang inflasi tahunan adalah ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, tomat, dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,16 persen.
Kemudian angkutan udara, ikan dencis, dan ikan kembung atau ikan gembung atau ikan banyar atau ikan gembolo atau ikan aso-aso memberikan andil masing-masing sebesar 0,14 persen, disusul akademi atau perguruan tinggi sebesar 0,11 persen, serta daging ayam ras sebesar 0,10 persen.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil atau sumbangan deflasi y-on-y, antara lain: detergen cair, popok bayi sekali pakai atau diapers, daging babi, dan ketimun masing-masing sebesar 0,02 persen. ( swisma)











