MEDAN–Mahalnya harga beras belakangan ini diduga dimanfaatkan oknum pedagang untuk mendulang keuntungan tinggi.
Salah satu cara yang dilakukan pedagang adalah dengan mengganti kemasan beras bulog dan dijual di atas harga eceren tertinggi (HET) sesuai dengan harga pasar.
Temuan itu diungkapkan Kepala
Komisi Pengawas Persaingan Usaha Kantor Wilayah (KPPU) Kanwil I, Ridho Pamungkas, Kamis (7/3/2024).
Pada gelaran Focus Group Discussion (FGD) terkait ketersediaan pasokan dan distribusi beras di kantor KPPU Jalan Gatot Subroto Medan, Ridho menilai harga beras di tingkat konsumen, khususnya di Sumut dijual jauh di atas HET.
Menurut Ridho, dari hasil pantauan langsung di pasar tradisonal di Medan menemukan beras medium dijual Rp13.750/kg dan premium di harga Rp.15.145/kg.
“Kita juga menemukan perilaku pedagang yang mengemas kembali beras stabilisasi pasokan dan harga pangan atau SPHP Bulog untuk dijual kembali sesuai dengan harga pasar,” ungkap Ridho.
Padahal harga beras Bulog jenis medium dijual Beras Rp 11.500 dan premium Rp 14.400. Sedangkan harga di pasar dijual melebihi di atas HET.
Untuk memetakan kondisi pasokan dan distribusi beras di Sumut, serta menelusuri permasalahan yang terjadi di lapangan, KPPU Kanwil I menggelar FGD.
Kegiatan itu dihadiri perwakilan Bank Indonesia, Bulog, Satgas Pangan Kepolisian Daerah Sumut, Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM, Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura.
Hadir juga sejumlah pelaku usaha antara lain PT Dhirga Surya, PD Pasar, PT Pilar Sumut, PT Sumberalfaria Trijaya Tbk dan Everbright serta pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin
Pada pertemuan itu diperoleh beberapa poin penting, antara lain, pada Februari 2024, Sumuy mencatat inflasi sebesar 0,41%. Sedangkan pada setiap Februari di tiga tahun terakhir selalu mengalami deflasi.
“Kondisi ini terjadi akibat kenaikan harga beras sebagai penyumbang terbesar inflasi di Sumut,” sebut Ridho.
Dijelaskannya, fluktuasi harga beras yang mencapai 7%-9% terbilang rendah dibandingkan komoditas lain seperti cabai, namun dianggap sudah sangat tinggi karena selama ini pemerintah selalu menjaga stabilitas harga beras.
Untuk produksi beras di Sumatera Utara pada Januari-Februari adalah 310.000 ton, sedangkan kebutuhan 199.000 ton, sehingga terdapat surplus sebesar 110.000 ton. Namun tidak boleh ada larangan untuk menjual beras keluar dari Provinsi Sumut.
Sebagai informasi, pekan ini terdapat 42 kontainer beras asal Sumut yang dikirim ke daerah lain.
Dengan adanya ketentuan terkait HET ritel modern mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan beras.
Hal tersebut karena produsen/distributor tidak sanggup memasok beras sesuai dengan HET, sementara ritel modern tidak berani menjual beras di atas HET.
Ridho menyebut, saat ini mampu memenuhi HET hanyalah beras SPHP dari Bulog. Terdapat 2.000 pcs beras bulog untuk gerai Alfamart di Sumatera Utara dan Aceh.
Dikatakannya, pada 2023 luas lahan pertanian turun, jumlah produksi gabah juga turun dibandingkan dengan tahun 2022.
Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab beberapa kilang beras, termasuk Dirga Surya, mengalami kesulitan untuk bersaing memperoleh pasokan beras dengan harga yang cocok.
Saat ini Bulog Sumut memiliki stok sebanyak 16.000 ton beras CBP (Cadangan Beras Pemerintah) dan memiliki 2.000 outlet mitra perum bulog di Sumatera Utara.
Untuk memperketat pendistribusian beras SPHP, Mitra Bulog harus memajang spanduk yang menyatakan disini beras dijual sesuai HET.
Terkadang pedagang mengambil pasokan beras dari agen yang lain karena kemudahan dalam pembayaran, sehingga rantai pasok semakin Panjang.
Dijelaskanya, PT Pilar dan PD Pasar selaku distributor beras SPHP pernah menawarkan kepada pedagang di Pasar Petisah untuk menjual beras SPHP Bulog dengan harga sesuai HET dan mendapatkan cash back sebesar Rp1.500/kg.
Namun para pedagang tidak mau menjual beras SPHP sesuai HET dan tetap memilih untuk menjual beras lain sesuai dengan harga pasar.
Di beberapa lokasi di Sumatera Utara dan Aceh sudah memasuki masa panen, sehingga harga beras cenderung turun.
Pada akhir Desember 2023, harga Gabah Kering Panen (GKP) mencapai Rp7.000 s.d Rp7.500/Kg.
Saat ini harga GKP sudah turun di angka Rp6.600 hingga Rp6.800/Kg dengan rendemen 47%. Sedangkan saat ini harga beras medium di kilang beras di Tanjung Morawa adalah Rp12.500/Kg.
Menurutnya, kenaikan harga beras menunjukkan adanya permasalahan terkait pasokan dan penawaran.
“Untuk itu perlu terus dilakukan sinergi antar para pelaku usaha, pemerintah dan aparat penegak hukum dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di Sumut. Apalagi saat ini akan memasuki Ramadan dan Idul Fitri 1445 H,” pungkas Ridho. (swisma)