USU Tuan Rumah Festival Kebangsaan Gema Kampus  

Edukasi96 Dilihat

MEDAN-Universitas Sumatera Utara (USU) tuan rumah penyelenggaraan Festival Kebangsaan “Gema Kampus” di Medan pada 7–8 November 2025.

Kegiatan ini diinisiasi bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).

Ajang ini merupakan platform nasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, musisi, seniman, mahasiswa, dan generasi muda dalam ekosistem kreatif  menggabungkan ide, inovasi, karya artistik, riset akademik, serta narasi kebangsaan.

Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos MSi menyambut baik pelaksanaan festival ini.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang ekspresi generasi muda dalam menumbuhkan sikap patriotik dan nasionalisme melalui musik dan aktivitas kreatif.

“USU mendukung penuh kegiatan yang dilaksanakan bersama MRPTNI. Harapannya, mahasiswa tidak hanya terhibur, tetapi juga terinspirasi untuk berbuat terbaik bagi bangsa dan negara,” ujar Prof. Muryanto, Jumat (6/11/2025).

Ia pun berharap kegiatan ini berjalan sukses serta memberi dampak positif bagi generasi muda Indonesia.

Festival itu merupakan kolaborasi USU, MRPTNI, Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI), serta Universitas Prima Indonesia (Unpri).

Inisiatif ini menegaskan bahwa patriotisme bukan sekadar slogan, tetapi sesuatu yang harus diproduksi, diolah, dan diekspresikan melalui kerja intelektual dan energi kreatif kampus.

Rangkaian acara dimulai pada 7 November 2025 di Unpri melalui Coaching Clinic Music Scoring  menghadirkan sesi teknis produksi musik digital untuk mahasiswa dan talenta muda kreatif.

Kegiatan ini menjadi ruang pendidikan teknikal yang menegaskan pentingnya komposisi audio dan scoring sebagai medium ekspresi kebangsaan dalam era visual–sonik.

Pada 8 November 2025, kegiatan berlangsung penuh di lingkungan USU.

Sejak pagi, Lapangan Mini Stadion USU akan menjadi ruang Pameran Inovasi dan Pop Art Market, mempertemukan produk kreatif, eksperimen visual, serta wirausaha mahasiswa.

Sementara itu, Auditorium USU menjadi panggung Dialog Kebangsaan “Ekspresi Kita” bertema “Musik Menjangkau Jiwa”.

Tampil sebagai narasumber Bimbim Slank, Alffy Rev, Shanna Shannon, Novia Bachmid, dan Prof. Muryanto Amin, dipandu Dr. Ngatawi Al Zastrouw.

Pada siang hari, kegiatan berlanjut ke Aula DLCB Gedung Rektorat USU lantai 8 untuk Rector’s Expressions (REx) #2 bertema “Inovasi Energi dan Rekonstruksi Budaya untuk Peradaban Berkelanjutan”.

Forum ini menghadirkan presentasi para pemenang kompetisi karya tulis ilmiah nasional dari jenjang S1, S2, dan S3.

Kemudian Dialog Interaktif dengan para rektor dan pimpinan perguruan tinggi negeri se-Indonesia.

Dialog menghadirkan narasumber nasional seperti Aris Marsudiyanto, SE, MM (Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus RI).

Selain itu Dr. Fadli Zon, M.Sc. (Menteri Kebudayaan RI), Dr. Dany Amrul Ichdan (Wakil Direktur Utama PT. Mind ID) yang dimoderatori Prof. Dr. Garuda Wiko, SH, M.Si. (Rektor Universitas Tanjungpura).

Acara dibuka Prof. Dr. Muryanto Amin dan Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST, MT (Ketua MRPTNI).

Puncak festival akan berlangsung pada malam hari melalui Konser Musik Kebangsaan “Musik Perajut Jiwa” di Lapangan Mini Stadion USU.

Konser ini menampilkan kolaborasi artistik dari D’Lanun, Alffy Rev, Once Mekel, Shanna Shannon, Novia Bachmid, Ki Ageng Ganjur (KAG), Dwiki Dharmawan, dan Slank, yang menutup festival dengan pertunjukan penuh energi dan narasi kebangsaan oleh Dr. Ngatawi Al Zastrouw.

Ketua MRPTNI Prof. Eduart Wolok menegaskan generasi kampus bukan sekadar konsumen identitas, melainkan produsen nilai-nilai kebangsaan.

“Generasi kampus menafsir bangsa melalui musik, inovasi, dan riset. MRPTNI ingin memastikan energi kreatif itu bertumbuh dan terkawal,” ujarnya.

Prof. Muryanto Amin menekankan  kampus adalah ruang hidup kebangsaan.

“USU memandang kebangsaan bukan slogan, tetapi practice of nationhood yang dilakukan melalui karya, kreativitas, inovasi, dan keberanian mencipta,” tegasnya.

Para musisi turut menyampaikan pandangan mereka. Once Mekel menyebut musik sebagai memori kolektif bangsa,

Kaka Slank menegaskan kekuatan Indonesia ada pada solidaritas, dan Alffy Rev menyoroti bahwa desain suara dapat menjadi strategi kebudayaan bagi generasi digital.

Festival Kebangsaan “Gema Kampus” didukung Gerakan Kebangsaan “Akar Indonesia” menjadi ruang bersama, di mana akademia, industri kreatif, musisi, dan mahasiswa berjalan dalam satu spektrum yang sama.

Patriotisme dalam festival ini bukan sekadar slogan, tetapi tindakan nyata melalui karya dan kolaborasi lintas generasi. (swisma)