MEDAN-Kehidupan ekonomi orangtuanya yang jauh dari pas-pasan, ternyata tidak menyurutkan keinginan Rizki untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.
Keinginan Rizky jadi sarjana bukan tanpa alasan. Berdasarkan fakta yang disaksikannya dalam kehidupan sehari-hari, Rizky berkesimpulan pendidikan adalah jalan untuk merubah kehidupan yang lebih baik.
Rizky menyaksikan banyak anak-anak muda yang terangkat martabatnya setelah selesai kuliah. Rizki sudah bertekad, dia tidak akan mewariskan kemiskinan kepada turunannya kelak.
Berbekal kemauan yang kuat dan tekad sekeras baja, dalam rangka mewujudkan impiannya itu, anak muda ini mencoba mensiasati keterbatasan ekonomi orangtuanya dengan cara bekerja sebagai kurir lepas pengantar paket di Jalur Nugharha Ekakurir atau yang lebih populer JNE, sebuah perusahaan ekspedisi terbesar di Indonesia yang melayani jasa pengiriman logistik dengan jangkauan terluas, tercepat dan terpercaya.
Keinginannya untuk kuliah itu memang tidak serta-merta dilakoninya, melainkan berproses. Sebab pada tahun pertama usai menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan di pinggiran kota Medan, Rizky tidak langsung kuliah. Tentu saja, sebab dia tidak punya uang. Dia baru kuliah di tahun kedua. Maka di tahun pertamanya bekerja, Rizki mengumpulkan gajinya untuk biaya perkuliahannya.
Selama setahun itu Rizki bekerja keras hingga malam hari dengan mengantarkan kiriman paket ke customer, Dari pendapatan selama setahun itu Rizky berhasil mengumpulkan uang jumlahnya cukup untuk menutupi uang kuliahnya.
Kegigihan dan kesungguhannya dalam memperjuangkan masa depannya, itu bukan hal yang mudah dan tanpa tantangan. Bisa dibayangkan betapa lelah dan pontang pantingnya anak muda ini mondar mandir menyelusuri jalan dan gang dari pagi hingga sore dan malamnya hadir di perkuliahan. Tentu semua itu membutuhkan tekad, disiplin tingkat dewa.
Setiap harinya, Rizki mulai beraktivitas usai melaksanakan Sholat Subuh dan berkemas-kemas untuk mengambil kiriman paket di kantor JNE kawasan Amplas Medan mulai pagi hingga malam
Keputusan Rizky memilih jadi kurir pengantar paket di perusahaan tersebut menurutnya terinspirasi setelah melihat tetangga yang bekerja di perusahaan itu bisa menghidupi istri dan dua orang anaknya.
Dalam hati Rizki saat itu berkata, kalau seorang yang bekerja sebagai kurir bisa menghidupi keluarganya, mestinya dia juga membiayai kuliahnya dari pendapatannya sebagai kurir.
Upayanya dalam memperjuangkan masa depannya itu tidak mengkhianati hasil. Dari hasil kerjanya itu kecuali bisa membiayai perkuliahannya, dia juga masih bisa menyisihkan sebagian untuk membantu ibunya.
Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, Rizky setiap harinya mengantarkan kiriman sebanyak 100-an paket . Dari setiap paket dia mendapat jasa 2 ribu rupiah sebagai mitra JNE. Dengan demikian setiap harinya dia memperoleh penghasilan 200-an ribu rupiah dengan menyisihkan sebagian kecil untuk biaya operasional seperti BBM dan lainnya,
Selama menjalani pekerjaannya itu ada beragam tantangan yang dihadapinya, mulai dari kesulitan mencari alamat yang kurang lengkap dan nomor ponsel yang tidak aktif hingga kehilangan paket customer.
Tindakan jahil yang diterimanya itu saat dia mengantarkan paket. Alamat customer yang dituju berada di gang sempit. Sepeda motornya yang penuh paket tidak muat dalam gang kecil. Dengan memarkirkan sepeda motornya di mulut gang dan mengantarkan paket tersebut.
Posisi kenderaan yang tidak terlalu jauh dari mulut gang diperkirakan hanya membutuhkan waktu 2 atau 3 menit. Namun ternyata dugaannya meleset. Dalam hitungan detik beberapa potong paketnya lenyap dibawa kabur dua pria berboncengan sepeda motor.
Tantangan itu dianggapnya sebagai ujian yang menuntut kesabaran dan keikhlasan. Semuanya itu dijalaninya dengan keyakinan akan ada pengganti yang diperolehnya melalui cara dan rahasia Allah SWT .
Bagi Rizky, dengan kepercayaan yang dianutnya, jika kita berdoa dan berusaha, apa yang ditekuni itu akan memberikan hasil yang baik pula. Begitu juga dengan keselamatan dalam menjalankan pekerjaan.
Banyaknya kasus pembegalan yang akhir-akhir ini marak di beberapa wilayah di kota Medan juga tidak menyurutkan kegigihannya untuk mengantarkan kiriman paket customer.
Tanpa bermaksud takabur Rizky menyatakan tetap hati-hati dan menghindari mengantarkan paket tidak sampai lewat pukl 20.00 WIB.
“Alhamdulillah, saya bisa menjalankan pekerjaan saya dengan perasaan senang, apalagi jika kiriman paket yang saya antar ke customer dengan puas. Itu merupakan kebahagiaan saya juga. Sebab sekecil apapun yang saya lakukan tapi bisa membahagiakan orang lain, adalah suatu rahmat dan berkah,” ungkap Rizky saat diwawancari usai mengantar paket penulis.
Kebahagian Rizky diakuinya menjadi lengkap karena bisa berbagi kepada orangtuanya. Dia berharap apa yang ditekuninya saat ini hingga akan meraih gelar sarjana sekira 1 tahun lagi bisa dicapainya dan membuktikan harapannya juga keluarganya. Semoga JNE makin tetap jaya san diterima para pelanggannya, baik dari negeri sendiri maupun luar negeri. Aamiin. (swisma)
“