Harga Cabai Merah Anjlok, Sumut  Deflasi di Juni 2025

News22 Dilihat

MEDAN -Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat terjadi deflasi  pada beberapa komoditas di Sumut pada Juni 2025

“Dibanding Mei 2025, Sumut mengalami deflasi secara month to month (m-to-m) menjadi 0,19 persen, sebelumnya 0,33 persen,” kata Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, Selasa (1/7/2025),

Disebutkannya, harga cabai yang anjlok menjadi penyumbang deflasi tertinggi sebesar 0,17 persen secara m-to-m.

Secara year to date (y-to-d) menyumbang andil deflasi sebesar 26,78 persen.

Deflasi cabai merah menjadi andil terbesar terjadi di Deli Serdang yaitu 0,29 persen dan terendah adalah Kota Pematangsiantar sebesar 0,07 persen.

Hasil pantauan di Pasar Raya Medan Mega Trade Centre (MMTC) di Jalan Pancing, harga cabai merah Rp 13 ribu per kilo.

Demikian juga di Pasar Akik Sukaramai yang sedikit mengalami perbedaan seharga Rp 15 ribu per kilo. Sementara di Pasar Halat berkisar Rp 18 -20 ribu per kilo.

Harga cabai pada April dan Mei di beberapa pasar di Medan berkisar Rp 40 – 45 ribuan.

Selain cabai komoditas tomat juga menjadi penyumbang deflasi tertinggi dengan andil 0,06 persen, setelah harganya turun hingga 12,83 persen (year-to-date).

Penurunan harga tomat tertinggi terjadi di Deliserdang (-13,82%), Pematangsiantar (-13,17%), dan Medan (-10,13%).

Penyumbang deflasi lainnya juga pada komoditas bawang putih, bawang merah, daging ayam ras, udang basah, cabai rawit, jeruk, cabai hijau, dan bensin.

Asim juga menyebutkan, BPS  Sumatera Utara mencatat inflasi tahunan (y-on-y) pada Juni 2025 sebesar 1,25 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,08.

Secara bulanan (m-to-m), Sumut mengalami deflasi 0,19 persen, sementara secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date/y-to-d), inflasi tercatat sebesar 0,77 persen.

Dijelaskan Asim, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Pematangsiantar sebesar 3,15 persen dengan IHK 110,32.

Sedangkan inflasi terendah tercatat di Kabupaten Karo sebesar 0,48 persen dengan IHK 108,02.

Komoditas yang menjadi penekan inflasi bulanan sebagian besar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang mengalami penurunan harga sebesar 0,80 persen dan memberi andil deflasi sebesar 0,28 persen.

Sementara itu, beras menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi pada Juni 2025 dengan andil 0,10 persen (m-to-m).

Sejak awal tahun, harga beras tercatat naik sebesar 3,79 persen, dengan kenaikan tertinggi di Deli Serdang sebesar 0,12 persen.

Selain beras, inflasi bulanan juga dipicu oleh angkutan udara (0,04%), emas perhiasan (0,03%), ikan kembung (0,02%), dan kontrak rumah (0,02%).

Untuk inflasi tahunan, emas perhiasan mendominasi dengan andil 0,45 persen, diikuti ikan dencis (0,21%), minyak goreng dan beras (masing-masing 0,16%), serta sigaret kretek mesin (0,15%).

Dari sisi kelompok pengeluaran, perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat sebagai penyumbang inflasi y-on-y terbesar dengan andil 0,60 persen.

Melihat kondisi ini, Asim menilai pentingnya dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dalam menjaga kestabilan harga, khususnya saat panen raya.

Ia menegaskan, produksi pertanian yang melimpah harus diimbangi dengan distribusi yang lancar dan pembukaan pasar baru agar harga tetap terjaga dan petani tidak merugi.

Diakuinya panen bagus, pupuk dan bibit tersedia. Tapi harga saat panen harus dijaga agar petani tetap untung

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan pusat untuk memperluas akses pasar, termasuk ke wilayah seperti Riau dan Aceh, seiring membaiknya konektivitas transportasi antarprovinsi. ( swisma)