Hadiah Diwali untuk Semua  dengan Sistem Pajak Barang dan Jasa

MEDAN-Menyambut perayaan Diwali tahun ini, Pemerintah India di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi menandai momen perubahan besar dengan mengambil langkah tegas untuk menyederhanakan dan merasionalisasi struktur pajaknya yang kompleks.

Pemeritah India meluncurkan reformasi besar terhadap sistem Pajak Barang dan Jasa (GST) yang kini memasuki babak baru dengan nama GST 2.0.

GST 1.0 yang awalnya diterapkan pada 1 Juli 2017, menggantikan jaringan pajak tidak langsung yang sangat terfragmentasi dengan sistem terpadu yang dipandu oleh visi “Satu Bangsa, Satu Pasar, Satu Pajak.”

“Reformasi ini bertujuan menyederhanakan struktur perpajakan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Konsul Jenderal India di Medan untuk Pulau Sumatera, Ravi Shanker Goel, Jumat (19/9/2025).

Disebutkannya, namun tantangan struktur tarif yang berlapis membuat pemerintah merasa perlu melakukan penyempurnaan.

Reformasi ini bukan hanya perubahan angka tarif, tapi bagian dari komitmen pemerintah India untuk menciptakan sistem pajak yang lebih adil dan efisien.

GST 2.0 hadir dengan tiga lapisan tarif saja—5%, 18%, dan 40%—menggantikan struktur lama yang terlalu rumit

Penyederhanaan dan Keringanan untuk Semua

Beberapa perubahan utama dalam GST 2.0 antara lain penghapusan lapisan tarif 12% dan 28%, pembebasan pajak untuk asuransi kesehatan dan jiwa, serta tarif nol persen untuk obat-obatan penyelamat nyawa, termasuk obat kanker dan penyakit langka.

Barang kebutuhan pokok seperti susu UHT, roti, dan paneer kini dikenakan tarif hanya 0–5%.

Untuk mendukung sektor pertanian dan industri kecil, mesin pertanian serta bahan baku pupuk kini dikenakan tarif 5%. Barang-barang elektronik rumah tangga seperti AC dan TV juga mengalami penurunan tarif dari 28% menjadi 18%.

Sebaliknya, barang-barang mewah dan konsumsi yang dinilai berdampak negatif seperti tembakau, pan masala, dan mobil mewah tetap dikenakan tarif tertinggi, yakni 40%.

Langkah ini akan langsung dirasakan masyarakat luas. Dari harga kebutuhan harian yang lebih murah hingga akses layanan kesehatan yang lebih terjangkau.

Ini bukan sekadar reformasi fiskal, tapi bagian dari pendekatan inklusif pemerintah untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Dorong Ekonomi, UMKM, dan Investasi

Tak hanya untuk konsumen, GST 2.0 juga dirancang untuk memudahkan dunia usaha. Dengan sistem digital yang disederhanakan, proses registrasi dan pengajuan pajak kini lebih cepat dan transparan.

Pengembalian dana (refund) dipercepat, dan GST Appellate Tribunal (GSTAT) akan mulai aktif Desember 2025 untuk menyelesaikan sengketa perpajakan secara lebih efisien.

UMKM akan sangat diuntungkan. Arus kas mereka akan lebih baik, biaya kepatuhan pajak menurun, dan investasi pun meningkat karena kepastian hukum dan transparansi yang lebih tinggi.

Pemerintah India memperkirakan bahwa reformasi ini akan menyuntikkan dana segar senilai Rs 2 lakh crore ke dalam perekonomian, mendorong konsumsi dalam negeri, meningkatkan produksi, serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Hal ini menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan PDB dan daya saing ekspor India di pasar global

Simbol Komitmen

Menurut Goel, peluncuran GST 2.0 di momen Diwali memiliki makna simbolis yang kuat.

Dikatakannya, Diwali adalah perayaan cahaya, harapan, dan awal baru. Peluncuran GST 2.0 menjadi penanda bahwa India sedang menuju era baru perpajakan yang lebih modern, efisien, dan berpihak pada rakyat.

Pemerintah India menegaskan bahwa reformasi ini akan memperkuat prinsip “Satu Bangsa, Satu Pasar, Satu Pajak”, menciptakan sistem ekonomi yang lebih terintegrasi dan berdaya saing tinggi.

Dengan GST 2.0, India menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas utama, sambil menjaga kesehatan fiskal negara.

Perubahan perpajakan ini di India bertujuan mencapai keseimbangan antara pendapatan negara dan promosi keadilan sosial.

Dengan meringankan beban pajak pada kelompok berpendapatan rendah dan menengah, dan menempatkan tanggung jawab lebih besar pada konsumsi kelas atas, reformasi ini menandakan tidak hanya penyesuaian ekonomi tetapi juga komitmen baru terhadap pertumbuhan inklusif di India saat musim perayaan dimulai.

“Kami mengundang dunia untuk melihat India sebagai tempat yang ramah usaha, terbuka untuk investasi, dan berkomitmen pada pertumbuhan yang berkelanjutan,” katanya. ( swisma)

 

Recent Posts