Festival Sastra Museum Rangkul Gen Z Kreatif dan Berkarya

Transformasikan Karya Sastra Dekat  Masyarakat

News67 Dilihat

MEDAN-Museum kini tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat menyimpan benda-benda purbakala,, artefak, dan arsip masa lalu yang ketinggalan zaman.

Seiring dengan kemajuan era teknologi dan inovasi, pelaku seni dan budaya rangkul generasi Z untk jadikan museum sebagai ruang kreatif yang mampu menghubungkan sejarah dengan imajinasi masa depan melalui festival sastra museum.

“Kamu siap rangkul dan dorong gen Z untuk berkarya dan melahirkan kreativitas baru lewat seni sastra,” kata penerima manfaat hasil kelola dana abadi kebudayaan melalui Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan untuk Pendayagunaan Ruang Publik 2025, Porman Wilson Manalu di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Rabu (8/7/2026).

Disebutkannya, festival Sastra Museum ini akan dilaksanakan 30 – 31 Juli mendatang di Museum Negeri Sumatera Utara.

Porman menyebutkan, melalui rangkaian festival sastra museum ini diharapkan lahir karya-karya sastra baru, tumbuh minat generasi muda terhadap literasi, serta semakin memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi, kebudayaan, dan kreativitas di Sumatera Utara.

Sastra museum, katanya merupakan ekspresi sastra masa depan yang berpusar pada ruang masa lalu dengan melibatkan generasi Z secara aktif dalam pengembangan fungsi museum sebagai ruang edukasi, wisata, dan ekonomi kreatif berbasis sejarah serta arsip budaya.

Melalui pendekatan tersebut, museum diharapkan menjadi taman belajar sekaligus ruang bermain yang nyaman bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi diri, membangun kreativitas, dan berkolaborasi tanpa meninggalkan nilai-nilai sejarah.

Festival ini juga ingin mentransformasikan karya sastra yang selama ini dianggap eksklusif menjadi karya yang inklusif dan dekat dengan masyarakat.

” Sastra tidak lagi dipahami sebagai teks yang rumit, melainkan produk budaya yang mampu menggerakkan daya cipta generasi muda ketika bersentuhan dengan koleksi sejarah yang tersimpan di museum,” ungkapnya

Dia berharap ke depan, festival sastra museum ini menjadi agenda tahunan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Selain itu, program ini juga akan melahirkan Sanggar Museum, sebuah ruang kreatif berbasis museum yang menjadi wadah pengembangan sastra, seni, dan ekonomi kreatif bagi generasi Z secara berkelanjutan

Pendiri Teater Rumah Mata, Agus Susilo, mengatakan Festival Sastra Museum dirancang tidak hanya sebagai perhelatan sastra, tetapi juga ruang kolaborasi yang mempertemukan seniman, akademisi, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat dalam mengembangkan kreativitas berbasis museum.

Melalui berbagai aktivitas yang disusun selama festival, peserta diajak menjadikan museum sebagai sumber inspirasi penciptaan karya sekaligus ruang belajar yang menyenangkan.

Rangkaian kegiatan diawali pada 28 Juli 2026 dengan Pelatihan Penulisan Karya Sastra di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menghadirkan Aisah Bashar sebagai narasumber.

Selanjutnya pada 29 Juli 2026 digelar Workshop Tata Kelola Sastra Museum di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata dengan narasumber S. Metron Masdison.

Puncak festival pada 30 Juli 2026 diisi Lomba Baca Puisi dengan dewan juri Teja Purnama Lubis, Muhammad Anggie J. Daulay, dan Soekisno

Untuk lomba akting dengan juri Agus Susilo, Mukhlis Ariyoga, dan Sri Wahyuningsih, serta Pojok Bincang Sastra Museum  hadirkan Dr. Rosliani, Dina Mariana, dan Renny Yulia.

Rangkaian festival berlanjut pada 31 Juli 2026 dengan Lomba Penulisan Karya Sastra yang dinilai Juhendri Chaniago, S. Ratman Suras, dan M. Yunus Rangkut.

Lomba Musikalisasi Puisi dengan dewan juri Hendrik Perangin-angin, Ririn Prabuwati, dan M. Raudah Jambak.

Peluncuran Buku Sastra, Penayangan Audio Visual Sastra Museum, Diskusi Sastra Museum yang menghadirkan Pidia Amelia, M.A., Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, bersama narasumber dari Balai Bahasa Sumatera Utara, serta Pementasan Sastra Pertunjukan Berbasis Museum.

Festival Sastra Museum mengembangkan interpretasi baru bahwa museum dan sastra merupakan ruang pertemuan kreativitas yang dapat melahirkan produk ekonomi kreatif secara berkelanjutan.

Dari ruang yang selama ini berpusat pada masa lalu, museum diproyeksikan menjadi ruang yang membentuk kerangka impian masa depan melalui kreativitas Generasi Z.

Ke depan, program ini akan dikembangkan melalui Sanggar Museum sekaligus mendorong Festival Sastra Museum menjadi agenda tahunan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.( swisma)