Columbia Asia Hospital Medan Gandeng LPK Prima Indonesia Bahas Penanganan Keluhan Gagal Ginjal

News111 Dilihat

MEDAN– Sejumlah pelaku medis baik dari rumah sakit, spesialis dan seluruh tenaga kerja (nakes) terus ikut beradaptasi dan mengupgrade kompetensi terkhusus pada kasus gagal ginjal kronis.

Pasalnya, di era modern ini prevalensi Penyakit Ginjal Kronis (PGK) di Indonesia makin meningkat

Sekaitan dengan itu, spesialis bedah vaskular dan endovaskular, mengambil peran semakin spesifik pada kasus  ini, khususnya pada penyempitan arteri perifer, akses vascular untuk pasien dyalisis seperti AV Fistula atau AV Graft

Selain itu juga untuk melakukan evaluasi intens mengenai penyempitan akes vascular lain akibat gagal ginjal.

Columbia Asia Hospital Medan berkolaborasi dengan Kemenkes dan Lembaga Pelatihan Kesehatan ( LPK) Prima Indonesia menggelar seminar ilmiah Deteksi Dini Pada Hemodialysis Access Management di Hotel Four Points Medan, Sabtu (4/7/2026).

Pada kegiatan itu dibahas perkembangan treatment Hemodialisa, sehingga bisa menyelamatkan lebih banyak pasien ke depannya.

dr. Muhammad Khadafi, Sp.B, Subsp.BVE (K) menyebutkan, untuk orang yang cuci darah gagal ginjal perlu akses. Jadi dengan perkembangan teknologi terkini bisa dilakukan secara operasi terbuka maupun endovaskular

Didampingi dr. Mohammad Nazril Rizki M. Ked(Surg), SpB, Subsp. BVE(K), dan  MR. Alphons Festus  sebagai Country Director Boston Scientific Indonesia serta tim dari Boston, Khadafi kepada wartawan mengatakan, buat  pasien gagal ginjal mungkin terapi paling baik itu adalah transplantasi.

“Tapi begitupun transplantasi itu bukan sesuatu hal yang gampang dikerjakan karena itu kita perlu terapi pengganti  ginjal, yaitu cuci darah,” kata Khadafi.

Dijelaskannya yang sudah dikerjakan dari dulu bagi penderita gagal ginjal
itu adalah pemasangan CDL (Catheter Double Lumen)

Kalau ada penyempitan atau peyumbatan di pembuluh darah di mana AV vaskular sudah dibuat, maka pada  masa itu, katanya bisa dikatakan mati. Artinya aksesnya tidak bisa lagi diapa-apakan, jadi perlu membuat akses yang baru

Seiring perkembangan zaman,  perusahaan-perusahaan obat
melakukan terobosan inovasi  sehingga membantu para dokter untuk proses penyembuhan pada penderita gagal ginjal.

“Kita sekarang bisa berusaha untuk membantu menyelamatkan pasien terhadap adanya penyempitan ataupun penyumbatan dengan cara intervensi, minimal invasif atau  dengan menggunakan balon, tergantung kasusnya seperti apa,” papar Khadafi.

Begitupun, katanya penggunaan Inovasi dan segala macam itu bukan supaya pasien lepas dari gagal ginjal tapi menjaga akses cuci darahnya untuk tetap hidup biar bisa cuci darah lebih lancar dan lebih berkualitas.

Walaupun pasien yang sudah transplantasi tetap dibuat akses cuci darah, sebab AV fistula untuk transplantasi sifatnya adalah back up kalau  ternyata terjadi reject atau penolakan

“Jadi transfer ginjalnya itu tidak bisa diterima sama badan sehingga pasien memerlukan kondisi agar darahnya mesti dicuci,” paparnya

Untuk itu dia mengimbau agar membiasakan minum air putih paling tidak 2 liter per hari dan hindari minuman-minuman yang manis dalam kemasan atau ultra proses food

Direktur Columbia Asia Hospital Medan, Dr. dr. Beni Satria M.Kes., S.H., M.H., FISQua mengatakan, meski cuci darah masih menjadi solusi terbaik hingga saat ini, metode rawatan sekarang sudah berkembang dengan pesat dan lebih baik, serta memperhatikan standar medis,”

Disebutkan Dr Beni, semua standar layanan cuci darah sudah menggunakan siklus “single use” untuk instrument dyalisis yang berfungsi meningkatkan kualitas, mengurangi resiko infeksi karena pasien cuci darah harus melakukan rawatan ini selama sisa hidupnya.

Dalam perhelatan ilmiah ini para spesialis bersama untuk melakukan multidisiplin rawatan antara dokter umum selaku petugas tata laksana, dengan pemantauan intervensi dari spesialis bedah vaskular dan endovaskular serta spesialis nefrologi yang menghasilkan clinical outcome yang 20% lebih baik daripada cara konvensional.

Praktek multidispilin ini, katanya sudah diimplementasikan di Columbia Asia Hospital Medan.

Tugas besarnya adalah kesadaran pasien HD, mengingat penyakit ini tidak menimbulkan symptom yang signifikan atau langsung.

Kesadaran ini yang harus terus dipupuk dan dikembangkan menjadi kebiasaan sehingga “sadar kesehatan” terbentuk dengan baik ke depannya.

Masyarakat di Medan diharapkan untuk lebih sadar dalam pemeriksaan yang bertujuan mencegah daripada mengobati

“Sedangkan dari sisi Columbia Asia Hospital Medan, kami akan rutin melakukan temu ilmiah dan juga memfasilitasi paket-paket pemeriksaan yang terjangkau sehingga bisa menekan laju resiko di Medan,” pungkas Beni.

Sementara itu, Country Director Boston Scientific Indonesia, Mr. Alphons Festus, memperkenalkan inovasi teknologi medis yang mendukung tindakan intervensi minimal invasif pada pasien gagal ginjal (Ima)