2023 Sensus Pertanian, BPS Sumut Berharap Diperoleh Data Produktivitas Petani

News75 Dilihat

GLOBALMEDAN.COM, DELISERDANG-Pemerintah akan melakukan sensus pertanian 2023 untuk memotret perubahan struktur pertanian Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut berharap data terkait petani akan diperoleh supaya pemerintah mampu membuat kebijakan untuk kesejahteraan petani.

Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Nizaruddin SST MSi mengatakan
Hasil Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) Maret 2021 menyebutkan petani di Sumut yang mengakses internet hanya 41,06% dari total penduduk yang mengakses sebesar 58,77%.

“Baru 41 persen penduduk petani Sumut yang mengakses internet.
Sedangkan petani yang belum mengakses internet sebesar 58,94 persen dari total penduduk yang tidak mengakses  41,28 persen,” kata Nizaruddin.

Menurut Nizaruddin saat menyampaikan Telaah Pertanian & Profil Petani Sumut 2022 dalam workshop wartawan yang digelar pada 16-19 Oktober 2022 di Deliserdang, digitalisasi dalam pertanian penting mengingat hingga saat ini, Sumut merupakan daerah basis pertanian.

“BPS memang tidak membuat kebijakan namun menyediakan data tentang pertanian. Sehingga, melalui Sensus Pertanian pada 2023 mendatang, BPS Sumut berharap data terkait petani akan diperoleh supaya pemerintah mampu membuat kebijakan untuk kesejahteraan petani.

Lebih lanjut dipaparkannya, data yang dicatat BPS Sumut 2021, penduduk umur 10 tahun ke atas yang mengakses internet total 58,77 persen diantaranya petani 41,06 persen.

Sedangkan petani yang tidak mengakses internet 68,24 persen dari total yang tidak mengakses internet sebesar 44,29 persen.

Terbukti, share pertanian untuk PDB Sumut ditopang oleh sektor pertanian. Disebutkannya, hingga Februari 2022 angkanya sebesar 25%.

Untuk meningkatkan digitalisasi petani Sumut, menurut Nizaruddin, pendampingan merupakan salah satu solusi yang bisa  ditawarkan BPS.

“Perlu dilakukan pendampingan terhadap petani melalui penyuluhan dan menyediakan akses internet di pedesaan ” ungkapnya.

Disebutkannya, kendala dalam digitalisasi pertanian dipicu rendahnya pendidikan. Apalagi mayoritas petani telah berusia tua (sebanyak 17,14 persen) sehingga kemampuan literasi petani pun terbatas.

BPS berharap petani mampu mengakses internet, salah satu manfaatnya agar tahu bagaimana memasarkan hasil pertanian, mengetahui cuaca yang baik untuk menanam yang baik dan cara mengatasi hama.

“Dengan penggunakan internet, petani akan mampu meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya,” katanya.

Ia berharap pendampingan  bisa membantu untuk menyukseskan sensus pertanian. Peran media juga diharapkan dalam mensosialisasikannya supaya petani tidak menolak petugas sensus.

“BPS menyediakan data petani agar pemangku kebijakan bisa mengambil keputusan yang tepat,” pungkasnya. (swisma)