Ketua MPR RI di UINSU:  Pancasila sebagai Jangkar Geopolitik Global

Edukasi119 Dilihat

MEDAN-Suasana khidmat menyelimuti aula biro rektor lantai 3 kampus IV Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medn, Senin ( 26 /1/2026)

Situasi itu berlangsung saat jajaran pimpinan universitas dan puluhan mahasiswa menyambut kehadiran Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Ahmad Muzani.

Kehadiran orang nomor satu di lembaga legislatif tersebut dalam rangka memenuhi undangan resmi untuk menyampaikan pidato kebangsaan di UINSU.

Ahmad Muzani pada pidatonya bertajuk “Penguatan Ideologi Pancasila di Tengah Geopolitik Global: Mewujudkan Indonesia Emas 2045“.

Acara strategis ini menjadi momentum penting bagi civitas akademika UINSU untuk memantapkan posisi perguruan tinggi sebagai laboratorium kebangsaan yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai moral serta spiritual.

Rektor UINSU, Prof. Dr. Nurhayati M.Ag pada sambutannya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas kesediaan Ketua MPR RI untuk berbagi wawasan kebangsaan di kampus hijau tersebut.

Prof. Nurhayati menekankan peran perguruan tinggi Islam sangat strategis dalam menyemai nilai moderasi, toleransi, dan kemanusiaan di dalam bingkai Pancasila demi mendidik calon pemimpin bangsa.

Dia berharap agar diskusi ini memberikan bekal bagi mahasiswa untuk menjadi pribadi yang berdaya saing global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, mengawali pidatonya dengan menyampaikan salam penghormatan yang penuh kehangatan kepada Rektor UINSU, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., Ketua Senat, Prof. Dr. Pagar, M.Ag., jajaran unsur  pimpinan UINSU  serta civitas akademika lainnya.

Hadir juga  Staf Ahli Kemenang., Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI, Wakil Rektor 4 Universitas Jambi

Ahmad Muzani  dalam pidatonya membedah tantangan berat yang dihadapi generasi muda saat ini.

Tantangan ini mulai dari disrupsi teknologi melalui Revolusi Industri 4.0 dan kecerdasan buatan hingga ancaman degradasi moral akibat arus informasi yang bebas.

Beliau menegaskan  Pancasila bersama UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah “PUSAKA” warisan pendiri bangsa yang wajib dijaga sebagai fondasi wawasan kebangsaan.

Menurutnya, pembangunan nasional harus selalu berakar pada identitas dan persatuan agar tidak goyah diterjang krisis identitas global.

Ahmad Muzani  juga menyoroti fenomena bonus demografi yang sedang dialami Indonesia, di mana penduduk usia produktif menjadi mayoritas.

Beliau memperingatkan bahwa jika kualitas sumber daya manusia tidak diperkuat melalui pendidikan dan inovasi, bonus ini berisiko menjadi “bencana demografi” seperti meningkatnya pengangguran dan ketimpangan ekonomi.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa UINSU untuk meningkatkan literasi digital, finansial, dan kebangsaan agar mampu bersaing di tingkat global dengan tetap memegang teguh akar budaya bangsa.

Selain isu geopolitik dan ideologi, Muzani secara khusus menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi bencana alam hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang mendominasi sepanjang 2025.

Beliau mengajak institusi pendidikan seperti UINSU untuk menjadi pusat kajian mitigasi risiko dan pelopor gaya hidup berkelanjutan.

Hal ini penting agar lulusan universitas tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga peka terhadap isu lingkungan dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Menutup pidatonya yang inspiratif, Ahmad Muzani menegaskan  Indonesia Emas 2045 hanya akan terwujud melalui sinergi antara ilmu pengetahuan, iman, dan pengabdian.

Dia juga berpesan agar seluruh mahasiswa tetap tangguh, inklusif, dan menjadikan ajaran agama serta nilai Pancasila sebagai pedoman hidup yang tak terpisahkan.

Pidato ini diakhiri dengan harapan besar agar UINSU terus mencetak SDM yang kompeten dan beretika sebagai benteng pertahanan ketahanan nasional.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cindera mata antara pimpinan universitas dengan Ketua MPR RI.

Kehadiran tokoh nasional ini diharapkan semakin memperkuat semangat kebangsaan di lingkungan UINSU, sekaligus membuktikan bahwa kampus bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan pusat pembentukan karakter kepemimpinan masa depan demi mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat di mata dunia. (swisma)