Dihadiri Wamen Dikti Saintek, Rektor Lantik Dekan dan Direktur PPs UMSU

Edukasi186 Dilihat

MEDAN-Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Prof. Dr. Agussani, MAP melantik sembilan dekan dan direktur sekolah pascasarjana periode 2025-2029.

Pelantikan dihadiri langsung Wakil Menteri Kemendiktisaintek RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd, Sabtu (25/10/2025) di Auditorium UMSU, Jalan Muchtar Basri Medan.

Pelantikan ditandai pembacaan sumpah jabatan yang diikuti  Prof. Dr. Triono Eddy SH MHum ( Direktur Sekolah Pascasarjana,) ⁠Dr. Zailani, MS (Dekan Fakultas Agama Islam); Dra. Syamsuyurnita, M.Pd (FKIP);

Kemudian Dr. Arifin Saleh, S.Sos., MSP. ( FISIP), Prof. Dr. Ir. Wan Arfiani Barus, M.P. (Fsk Pertanian), Dr. Radiman, S.E., M.Si.(FEB), Dr. Faisal, S.H., M.Hum (Fak. Hukum), ⁠Ir. Ade Faisal ST M.Sc Ph.D ( Teknik)

Selain itu juga  turut dilantik dr. Siti Masliana Siregar, Sp.THT-KL., Subsp.Rino(K).( Kedokteran dan Ilmu Kesehatan dan Dr. Al-Khowarizmi, S.Kom., M.Kom ( Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi.)

Pelantikan diawali pembacaan SK Rektor oleh Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Sumber Daya Manusia Prof. Dr. Akrim, M.Pd

Pada momen ini, Wakil Menteri Kemendiktisaintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd mengucapkan tahniah kepada para Dekan dan Direktur Sekolah Pascasarjana UMSU yang telah dilantik.

“Pergantian pimpinan itu adalah keniscayaan. Tapi harus diingat, konsekuensinya tidak ringan. Setiap pergantian menuntut tanggung jawab untuk menjadi lebih baik,” ujar Prof. Fauzan.

Dia mengutip prinsip “One Percent Rule” dalam kepemimpinan, bahwa hanya satu persen dalam suatu organisasi yang menjadi pemimpin, sembilan persen pengkritik dan Sembilan puluh persen kelompok penerima manfaat dari pimpinan.

“Kalau ingin menyenangkan semua orang, jangan jadi pemimpin, jadilah pelawak. Pemimpin harus siap dikritik, karena kritik itulah yang membuat kita belajar dan memperbaiki diri,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia mengingatkan pentingnya empati dalam kepemimpinan.

“Menjadi pemimpin bukan berarti menjadi ‘aku’, tapi menjadi ‘kita’. Pemimpin yang baik adalah yang mampu melihat, merasakan, dan memahami kebutuhan lingkungannya,” tegasnya.

Prof. Fauzan juga mengatakan,  generasi saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya, daya tahan bacanya pendek, lebih suka jalan pintas.

Maka cara mengajarnya juga harus berubah. Kalau tidak, para pengajar akan ditinggalkan.

Menurutnya perguruan tinggi bukan sekadar tempat belajar tapi harus menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kalau itu yang dituntut maka perguruan tinggi harus mendesain menjadi berdampak. Ini tidak mudah karena perubahan dari perguruan tinggi yang sekadar tempat belajar ini tidak mudah. Mindset inilah yang harus dimiliki pimpinan perguruan tinggi,” katanya.

Dia berharap UMSU semakin agresif berinovasi dan berkolaborasi dengan program-program pemerintah di bidang pendidikan tinggi.

Rektor UMSU Prof. Agussani penuh haru menyampaikan bahwa pergantian kepemimpinan di lingkungan UMSU merupakan bagian dari proses regenerasi yang selalu berjalan baik sesuai aturan yang ada di persyarikatan Muhammadiyah.

Dia menyampaikan, perjalanan panjang yang luar biasa di tengah perguruan tinggi yang kompetitif dapat dijalankan bersama-sama dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.

“Walaupun Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi menurun, tapi alhamdulillah saat ini UMSU mendapatkan 4600 mahasiswa,” ujarnya.

Rektor juga melaporkan sejumlah capaian universitas seperti 18 mahasiswa internasional dari berbagai negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Nigeria, dan Yaman. Prestasi dibidang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).

“Ini menunjukkan bahwa UMSU tetap dipercaya masyarakat di tengah kompetisi perguruan tinggi yang semakin ketat,” ungkapnya.

Terkait Muktamar Muhammadiyah 2027 yang digelar di Sumatera Utara, Prof. Agussani melaporkan kepada Wakil Menteri Kemendikti Saintek bahwa progres pembangunan arena Muktamar telah mencapai lebih dari 28%.

Ketua PWM Sumatera Utara Prof. Dr. H. Hasyimsyah Nasution, MA mengingatkan jabatan yang diterima para Dekan dan Direktur adalah amanah besar.

“Amanah kepemimpinan bukan hanya kekuasaan, tapi kewenangan untuk menolong banyak orang. Maka benahi diri, baik secara pribadi maupun kolektif, agar amanah itu memberi manfaat,” pesan Ketua PWM.( swisma)