Perang dan Krisis Geopolitik Berpengaruh terhadap Saham Global dan Domestik

Bisnis125 Dilihat

MEDAN-Konflik geopolitik terus bermunculan di berbagai belahan dunia. Contohnya perang Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga konflik Israel-Iran. Semua ini menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar keuangan global. Pasar saham pun ikut bergejolak, termasuk di Indonesia.

Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara, Muhammad Pintor Nasution, menjelaskan. Gejolak ini berdampak langsung pada psikologi pasar.

“Saat konflik pecah, investor cenderung panik. Mereka mencari tempat aman,” ujar Pintor, Senin (7/7/2025).

“Akibatnya, dana keluar dari pasar saham. Dana itu masuk ke aset safe haven seperti emas atau obligasi pemerintah,” tambahnya.

Ia mencontohkan, harga emas melonjak saat awal perang Rusia-Ukraina. Ini membuktikan investor global menghindari risiko.

Selain itu, banyak dari mereka menarik modal dari negara berkembang. Indonesia termasuk di dalamnya.

Fenomena ini dikenal sebagai capital outflow. Ini biasanya melemahkan rupiah. Ini juga meningkatkan volatilitas pasar.

Menurut Pintor, perang juga memicu lonjakan harga komoditas global. Contohnya minyak, gas, dan pangan.

Konflik Rusia-Ukraina sempat menyebabkan harga gandum melonjak puluhan persen. Di satu sisi, ini menguntungkan emiten sektor energi seperti batu bara dan minyak.

Namun, di sisi lain, sektor manufaktur tertekan. Mereka bergantung pada bahan baku impor. Ini karena meningkatnya biaya produksi.

Selain itu, pelemahan rupiah akibat krisis global menambah beban perusahaan. Ini terutama bagi yang punya utang dalam dolar AS.

Namun, bagi perusahaan ekspor—seperti sawit atau nikel—pelemahan rupiah justru bisa menjadi keuntungan tambahan. Ini berasal dari selisih kurs.

“Indeks saham mencerminkan harapan investor terhadap ekonomi,” jelas Pintor. “Saat perang, banyak indeks global seperti S&P 500, FTSE, atau Nikkei terpukul. IHSG juga terdampak. Namun, Indonesia punya kekuatan dari sektor komoditas. Ini bisa menjadi penyelamat,” tambahnya.

Sejumlah sektor usaha dinilai lebih rentan. Contohnya manufaktur, logistik, dan perbankan. Sebaliknya, sektor energi, perkebunan (CPO, karet), dan logam seperti nikel justru berpeluang tumbuh di tengah krisis.

Pintor menekankan, investor tidak perlu panik.

“Volatilitas jangka pendek itu wajar. Namun, pasar modal terbukti selalu bisa pulih dalam jangka panjang,” tambahnya.

Ia pun menyarankan lima strategi penting bagi investor:

• Diversifikasi: Jangan taruh semua dana di satu sektor. Ini kunci untuk mengurangi risiko.

• Cek Valuasi: Harga saham turun belum tentu murah. Pastikan valuasinya masih masuk akal.

• Pegang Tujuan Jangka Panjang: Jangan biarkan berita sesaat menggoyahkan rencana keuangan.

• Gabungkan Instrumen Defensif: Tambahkan obligasi atau reksa dana pasar uang sebagai penyeimbang.

• Pantau Sektor Tahan Krisis: Konsumsi primer, kesehatan, dan energi biasanya lebih stabil saat krisis.

Pintor juga mengingatkan. Perang Rusia-Ukraina menjadi pelajaran penting.

“Saat itu pasar sempat anjlok, tapi kemudian rebound,” jelasnya. “Indonesia malah untung dari kenaikan harga komoditas. Kita mencatat surplus neraca dagang,” tambahnya.

Dengan konflik Israel-Iran yang kini berlangsung, kondisi serupa mungkin terulang. Pasar akan bergolak. Namun, peluang tetap terbuka bagi investor yang siap dan bijak.

“Kesimpulannya, jangan abaikan risiko, tapi lihat juga peluang,” ujarnya.

Menurutnya, investor yang memahami kondisi makro, arus modal, nilai tukar, serta tren komoditas akan lebih siap mengambil keputusan cerdas.

Kuncinya adalah disiplin, edukasi berkelanjutan, dan kemampuan mengelola emosi. Di tengah badai global, pasar saham tetap menyimpan potensi bagi mereka yang tahu arah angin. (swisma)