MEDAN-Nilai impor Provinsi Sumatera Utara pada Januari 2026 tercatat US$486,80 juta atau meningkat 4,08 persen dibandingkan Januari 2025 yang sebesar US$467,71 juta.
“Kenaikan impor terbesar ini masih didominasi kebutuhan
bahan bakar mineral,” kata
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Asim Saputra, Senin (2/3/2026)
Dijelaskannya, dari total impor sebesar US$486,80 juta pada Januari 2026, bahan baku memberikan peran terbesar yaitu 79,44 persen dengan nilai US$386,74 juta.
Sedangkan impor barang konsumsi sebesar 12,69 persen atau US$61,79 juta, dan impor barang modal sebesar 7,86 persen atau US$38,27 juta.
Berdasarkan golongan barang (HS 27), nilai impor terbesar pada Januari 2026 berasal dari golongan bahan bakar mineral sebesar US$86,81 juta, disusul mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar US$44,92 juta.
Secara keseluruhan, nilai impor sepuluh golongan barang utama pada Januari 2026 meningkat sebesar US$28,25 juta atau 9,14 persen dibandingkan Januari 2025.
Pada golongan barang lainnya justru mengalami penurunan sebesar US$9,16 juta atau turun 5,78 persen.
Asim juga menyebutkan, jika dibandingkan dengan Januari 2025, penurunan impor terbesar terjadi pada golongan mesin-mesin atau pesawat mekanik yang turun US$10,73 juta atau 19,28 persen.
Penurunan juga terjadi pada golongan ampas dan sisa industri makanan yang turun US$5,13 juta atau 12,64 persen.
Sebaliknya, kenaikan impor terbesar terjadi pada golongan gandum-ganduman yang melonjak US$20,38 juta atau 322,01 persen.
Kenaikan juga diikuti bahan bakar mineral yang naik US$11,39 juta atau 15,10 persen.
Menurut dia, peran impor dari sepuluh golongan barang utama pada Januari 2026 mencapai 69,33 persen.
Kontribusi tertinggi berasal dari bahan bakar mineral sebesar 17,83 persen, diikuti mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar 9,23 persen.
Pemasok Terbesar
Dari sisi kawasan, sebesar US$219,57 juta atau 36,25 persen impor Sumatera Utara berasal dari Asia di luar ASEAN.
Sementara dari kawasan ASEAN sebesar US$141,65 juta atau 30,82 persen, dan sisanya dari kawasan lainnya.
Negara pemasok terbesar pada Januari 2026 adalah Tiongkok dengan nilai US$130,39 juta atau 26,78 persen dari total impor.
Disusul Malaysia sebesar US$69,08 juta atau 14,19 persen, dan Singapura sebesar US$54,86 juta atau 11,27 persen.
Disebutkannya, selama Januari 2026, sepuluh negara asal utama memberikan kontribusi sebesar 83,15 persen terhadap total nilai impor Sumatera Utara.
Nilai impor dari sepuluh negara utama tersebut meningkat tipis sebesar 0,17 persen dibandingkan Januari 2025.
“Struktur impor yang masih didominasi bahan baku menunjukkan aktivitas produksi di Sumut tetap berjalan dan membutuhkan dukungan pasokan dari luar negeri,” punhkas Asim ( swisma)






