MEDAN-Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sumut, IGP Wira Kusuma saat menggelar Bincang Bareng Media (BBM) tentang Kaleidoskop Perekonomian Sumut dengan wartawan di Lantai 6 Gedung KPw BI Sumut di Jalan Balai Kota, Kota Medan, Provinsi Sumut, Kamis (19/12/2024) siang.
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada 2025 semakin menguat, diprakirakan mencapai pertumbuhan dengan rentang sasaran 4,9 – 5,796 (yoy).
“Meski risiko eksternal dan domestik masih membayangi, namun diperk irakan pada 2025 makin menguat,” kata Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sumut, IGP Wira Kusuma, Kamis (19/12/2024).
Menurut Wira saat Bincang Bareng Media (BBM) tentang Kaleidoskop di Lantai Gedung BI Sumut Jalan Balai Kota, Medan, tahun ini, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara diprakirakan tetap kuat berada pada rentang kisaran 4,7-5,596 (yoy).
Dikatakan Wira, konsumsi rumah tangga diprakirakan akan ditutup lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini didukung tingkat inflasi yang rendah sebesar 1,134 (ytd).
Kenaikan permintaan masyarakat menjelang nataru, tunjangan han raya yang diterima 10044, serta pencairan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara mewamai terjaganya daya beli masyarakat.
IGP Wira Kusuma menambahkan, tensi geopolitik di sejumlah negara, dan risiko pertumbuhan negara mitra dagang utama yang lebih rendah dapat menekan ekspektasi lebih kuatnya pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara.
Sumbangan penerimaan ekspor yang tinggi selama beberapa triwulan terakhir memberikan harapan bagi peningkatan daya saing sektor industri pengolahan, yang memberikan multiplier tinggi bagi penciptaan lapangan kerja.
Pemerintah juga mengumumkan tarif tunggal PPN, yakni sebesar 12 persen dan berlaku mula 1 Januari 2025, namun dengan fasilitas pembebasan terhadap barang dan jasa kebutuhan pokok serta pajak ditanggung pemerintah (DTP) terhadap tiga komoditas (tepung terigu, gula untuk industri, dan minyak goreng rakyat atau MinyaKita).
Bersamaan dengan itu,
pemerintah juga menyatakan menyiapkan paket stimulus ekonomi yang menyasar enam aspek, yakni rumah tangga, pekerja, UMKM, industri padat karya, mobil listrik dan hibrida, serta properti.
Bauran kebijakan Bank Indonesia pada 2025, kata Wira akan terus diarahkan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dalam sinergi erat dengan kebijakan ekonomi nasional.
Lebih lanjut dipaparkannya, kebijakan moneter Bank Indonesia pada 2025 akan diarahkan pada keseimbangan untuk menjaga stabilitas (“pro-stabiltty and growth”), dengan tetap mencermati ruang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sasarannya adalah pencapaian sasaran inflasi dan stablitas nilai tukar Rupiah, khususnya dari dampak negatif rambatan global
Inflasi dan stablitas nilai tukar Rupiah yang terkendali sebagai prasyarat bagi kepastian dan berkembangnya berbagai aktivitas ekonomi dan keuangan, baik oleh pemerintah, perbankan, dunia usaha, investor, maupun masyarakat
Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonom berkelanjutan (“pro-growth”).
Kebijakan makroprudensial longgar akan tetap dilanjutkan untuk mendorong kredit dan pembiayaan perbankan pada sektor-sektor prioritas yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, pengembangan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), inklusi ekonom dan keuangan hijau.
Menurut Wira , Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah di Sumatera Utara selalu bersinergi dalam rangka pengendalian inflasi di Sumatera Utara melalui strategi 4K.
Keempat strategi itu yakni ketersediaan pasokan dengan mendorong peningkatan produksi melalui pemberian bantuan sarpras dan gerakan menanam serentak.
Mendorong peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pangan melalui pemberian bantuan sarana dan prasarana serta pelatihan kepada kelompok tani di daerah sentra dan wilayah potensial produksi.
Selain itu upaya peningkatan produksi dilakukan gerakan tanam serentak di sejumlah daerah sentra hortikultura, seperti Karo, Langkat, dan Deliserdang.
Selanjutnya keterjangkauan Harga melalui Gerakan Pangan Murah dan Operasi Pasar serta Peluncuran Toko Pantau Inflasi sebagai pusat referensi harga.
Kelancaran Distribusi dengan melakukan sidak pasar, kerja sama Antar Daerah (KAD) dan Fasilitasi distribusi Pangan kepada truk pengangkut sembako.
Selanjutnya komunikasi yang Efektif dengan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) Belanja Bijak, High Level Meeting dan Rapat Koordinasi
Pada BBM tentang Kaleidoskop Perekonomian Sumut, IGP Wira Kusuma didampingi Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut Iman Gunadi dan Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut dan Suharman Tabrani. ( swisma)